Berdasarkan laporan PT PLN (Persero), setidaknya ada 6.500 desa di Provinsi Aceh yang jaringan listriknya terdampak setelah bencana banjir dan longsor pada akhir November 2025.
Dari jumlah tersebut, per Minggu (18/1/2026), sebanyak 6.432 desa atau 98,95% telah kembali teraliri listrik. Sementara, 68 desa atau 1,05% masih belum teraliri listrik.
Adapun desa yang belum teraliri listrik tersebar di delapan kabupaten, yaitu Aceh Utara, Aceh Barat, Bireuen, Gayo Lues, Aceh Tamiang, Aceh Timur, Bener Meriah, dan Aceh Tengah.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menjelaskan desa-desa yang masih padam berada di wilayah dengan tantangan geografis yang paling berat, seperti akses jalan terputus, rusak parah, atau hilang.
“Namun, kami tidak menunggu. Kami terus bergerilya dan menyambung kembali listrik hingga titik terdalam Aceh,” ujar Darmawan dalam keterangannya.
General Manager PLN Unit Induk Distribusi (UID) Aceh, Eddi Saputra, mengatakan terdapat 171 titik longsor yang menutup akses dan 14 jembatan rusak, sehingga mobilisasi alat berat dan material kelistrikan terhambat.
Menurutnya, konsentrasi tim saat ini berada di wilayah-wilayah yang masih terisolir. Di Aceh Tengah, ada 36 desa yang sedang diupayakan pemulihan jaringan listrik permanennya, disusul Bener Meriah 13 desa serta beberapa desa di Gayo Lues dan Aceh Tamiang.
“Petugas kami di lapangan terus bersiaga di titik terdekat dengan lokasi longsor. Begitu akses memungkinkan untuk dilewati, tim teknis kami akan langsung masuk untuk melakukan perbaikan tiang dan kabel yang roboh akibat bencana,” jelas Eddi.
Sambil menunggu proses perbaikan, 68 desa yang belum teraliri listrik akan mendapatkan pasokan energi listrik dari program 1.000 genset Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
(Baca: 107 Ribu Hektare Sawah Rusak akibat Bencana Sumatra, Terbesar di Aceh)