Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 239 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 71 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (24/1/2024) pukul 08.51 WIB. Dari 239 titik panas terdeteksi, 4 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 233 titik skala sedang, dan 2 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: 10 Daerah Paling Minim Polusi Udara di Indonesia, Minggu Sore Banjarmasin Peringkat 1)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kepulauan Bangka Belitung sebanyak 47 titik. Bengkulu menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 44 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 31 titik panas.
Sebanyak 13 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Timur, Aceh menyusul dengan 13 titik panas, serta Sumatera Utara dan Jambi masing-masing memiliki 12 dan 11 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Gunung Semeru Erupsi pada Rabu Pagi, Tingkat Aktivitas di Level Siaga)