Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Persentase Penduduk Laki-laki dan Perempuan di Kota dan Desa yang Mempunyai Keluhan Kesehatan dalam Sebulan Terakhir menurut Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2025 sebesar 20,22 persen. Angka ini menunjukkan penurunan sedikit dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 20,87 persen. Meskipun demikian, jika melihat data historis sejak tahun 2000, terlihat adanya fluktuasi. Pada tahun 2000, persentase keluhan kesehatan adalah 20,64 persen, kemudian meningkat tajam hingga mencapai puncaknya pada tahun 2009 sebesar 36,5 persen. Setelah itu, angka ini cenderung menurun, namun kembali meningkat pada tahun 2023 menjadi 30,98 persen sebelum akhirnya turun kembali di tahun 2024 dan 2025.
Secara keseluruhan, data historis menunjukkan bahwa persentase keluhan kesehatan di Sulawesi Tenggara cukup fluktuatif. Kenaikan tertinggi terjadi pada periode 2007-2008, dengan peningkatan sebesar 7,43 persen. Sementara penurunan terendah terjadi pada periode 2022-2023 dengan penurunan turun 9,84 persen. Jika dibandingkan dengan rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025), angka 20,22 persen pada tahun 2025 masih berada di bawah rata-rata. Begitu pula jika dibandingkan dengan rata-rata 5 tahun terakhir (2021-2025).
(Baca: Produksi Tebu Periode 2013-2024)
Dibandingkan dengan provinsi lain di Pulau Sulawesi, Sulawesi Tenggara berada di peringkat ke-6 untuk persentase keluhan kesehatan pada tahun 2025. Peringkat ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Secara nasional, Sulawesi Tenggara menempati peringkat ke-29. Nilai ini menunjukan kondisi yang kurang baik di antara provinsi lainnya di Indonesia.
Anomali terlihat pada tahun 2023 dimana terjadi lonjakan persentase keluhan kesehatan yang signifikan. Hal ini bisa jadi disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan pola hidup, kondisi lingkungan, atau peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan. Namun, data ini menunjukkan bahwa isu kesehatan tetap menjadi perhatian penting di Sulawesi Tenggara.
Secara umum, meskipun terjadi penurunan sedikit pada tahun 2025, fluktuasi data historis menunjukkan bahwa isu keluhan kesehatan di Sulawesi Tenggara memerlukan perhatian berkelanjutan. Diperlukan analisis lebih mendalam untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan persentase keluhan kesehatan dari waktu ke waktu, sehingga dapat dirumuskan kebijakan yang tepat sasaran untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah mencatatkan persentase keluhan kesehatan sebesar 21,68 persen, menempatkannya pada peringkat ke-5 di Pulau Sulawesi dan peringkat ke-26 secara nasional. Data ini menunjukkan penurunan turun 3,26 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun begitu, Sulawesi Tengah masih perlu berupaya untuk menekan angka keluhan kesehatan di wilayahnya agar dapat bersaing dengan provinsi lain di pulau tersebut.
(Baca: Rata-Rata Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Perawatan Kulit di Kota Pematang Siantar 2018 - 2024)
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur, dengan persentase 21,5 persen, menduduki peringkat ke-5 di Pulau Kalimantan dan peringkat ke-27 secara nasional. Provinsi ini mengalami pertumbuhan sebesar 7,45 persen. Angka ini menandakan adanya peningkatan kesadaran atau akses terhadap layanan kesehatan, meskipun masih perlu diimbangi dengan upaya preventif untuk mengurangi keluhan kesehatan secara keseluruhan.
Bali
Bali memiliki persentase keluhan kesehatan sebesar 20,27 persen, menempatkannya di peringkat ke-3 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali, serta peringkat ke-28 secara nasional. Pertumbuhan positif sebesar 4,92 persen mencerminkan kemajuan dalam penanganan isu kesehatan di Pulau Dewata. Meski demikian, Bali tetap perlu menjaga momentum ini agar dapat terus menekan angka keluhan kesehatan di masa mendatang.
Papua Barat Daya
Papua Barat Daya, dengan persentase 19,15 persen, menduduki peringkat pertama di Pulau Papua dan peringkat ke-30 secara nasional. Pertumbuhan yang cukup tinggi sebesar 9,87 persen menunjukkan adanya peningkatan yang signifikan dalam pelayanan kesehatan di provinsi termuda ini. Hal ini tentu menjadi modal penting bagi Papua Barat Daya untuk terus meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.
Papua Selatan
Papua Selatan mencatatkan persentase keluhan kesehatan sebesar 19,09 persen, menempatkannya di peringkat ke-2 di Pulau Papua dan peringkat ke-31 secara nasional. Penurunan turun 10,12 persen mengindikasikan adanya efektivitas program kesehatan yang dijalankan di wilayah ini. Meski demikian, Papua Selatan perlu terus memantau dan mengevaluasi program-program tersebut agar penurunan keluhan kesehatan dapat berkelanjutan.
Maluku
Maluku memiliki persentase keluhan kesehatan sebesar 18,63 persen, menduduki peringkat pertama di Pulau Maluku dan peringkat ke-32 secara nasional. Pertumbuhan tertinggi di antara semua provinsi yang dibandingkan, yaitu 29,55 persen, menandakan keberhasilan upaya kesehatan masyarakat di Maluku. Dengan pencapaian ini, Maluku memiliki potensi besar untuk menjadi contoh bagi provinsi lain dalam penanganan isu keluhan kesehatan.