Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produksi cabai rawit di Provinsi Papua Barat pada tahun 2024 sebesar 1.292,6 ton.
Angka ini menunjukkan adanya peningkatan sebesar 23,61% dibandingkan tahun 2023 yang tercatat 1.045,7 ton. Namun, jika dibandingkan dengan rata-rata produksi selama tiga tahun terakhir (2021-2023) yaitu sebesar 3.322 ton, produksi cabai rawit di Papua Barat pada tahun 2024 masih jauh lebih rendah. Jika dibandingkan dengan rata-rata produksi selama lima tahun terakhir (2019-2023) yaitu sebesar 2.957,7 ton, maka produksi cabai rawit tahun 2024 juga masih di bawah rata-rata.
(Baca: Harga Beras Kualitas Medium II di Pasar Tradisional Periode Januari 2025-2025)
Secara historis, produksi cabai rawit di Papua Barat mengalami fluktuasi. Terjadi lonjakan signifikan pada tahun 2020 yang mencapai 3.277 ton, namun kemudian menurun drastis pada tahun 2023 menjadi 1.045,7 ton. Kenaikan tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada tahun 2019 dengan pertumbuhan mencapai 424,32%, sementara penurunan terendah terjadi pada tahun 2023 dengan penurunan turun 74,54%.
Pada tahun 2024, Papua Barat menempati peringkat ke-5 produksi cabai rawit di antara pulau-pulau di Indonesia. Peringkat ini menunjukkan penurunan dibandingkan tahun 2023 yang berada pada peringkat ke-4. Secara nasional, Papua Barat berada pada peringkat ke-36. Nilai produksi cabai rawit Papua Barat tertinggal jauh dibandingkan Papua Selatan dengan nilai produksi 1.560,7 ton yang menduduki ranking 3 di pulau Papua.
Terlepas dari peningkatan produksi pada tahun 2024, angka ini masih jauh dari potensi maksimal yang pernah dicapai. Anomali terlihat pada tahun 2023, dimana terjadi penurunan produksi yang sangat signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dibandingkan dengan rata-rata lima tahun terakhir, terlihat bahwa produksi cabai rawit di Papua Barat masih belum stabil dan rentan terhadap faktor-faktor eksternal.
(Baca: Persentase Rata-Rata Pengeluaran per Kapita Sebulan untuk bukan Makanan di Perdesaan Periode 2013-2023)
Papua Selatan
Papua Selatan mencatatkan produksi cabai rawit sebesar 1560,7 ton. Wilayah ini menduduki peringkat ke-3 di antara pulau-pulau di Indonesia. Dari data tersebut menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 35,68%. Kenaikan ini setara dengan 410,4 ton. Akan tetapi, jika menilik dari data perbandingan, Papua Selatan mencatatkan peningkatan yang menjanjikan di sektor produksi cabai rawit.
Kep. Riau
Kepulauan Riau berada di peringkat ke-10 di antara pulau-pulau di Indonesia. Daerah ini, memiliki produksi cabai rawit sebesar 1487,8 ton. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 19,51%. Dengan selisih nilai sebesar 242,9 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Meski tidak setinggi Papua Selatan, Kepulauan Riau menunjukkan performa yang cukup baik dalam meningkatkan produksi cabai rawit.
Papua
Provinsi Papua mencatatkan produksi cabai rawit sebesar 1418,4 ton, menempati peringkat ke-4 di antara pulau-pulau di Indonesia. Dibandingkan tahun sebelumnya, pertumbuhan produksi cabai rawit di Papua sangat signifikan, mencapai 78,35%. Kenaikan ini setara dengan 623,1 ton. Papua menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan produksi cabai rawit tertinggi.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menempati peringkat ke-6 di antara pulau-pulau di Indonesia. Daerah ini mencatatkan nilai produksi cabai rawit yang tergolong rendah jika dibandingkan wilayah lain, yaitu hanya 40,4 ton. Namun, secara persentase pertumbuhan, DKI Jakarta mencatatkan angka yang fantastis, yaitu 2593,33%. DKI Jakarta membuktikan bahwa dengan strategi yang tepat, peningkatan produksi cabai rawit yang signifikan dapat dicapai meskipun dengan basis produksi yang rendah.