Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data PDRB ADHK Pengeluaran Inventori Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi Jambi untuk periode tutup tahun 2025. Pada tahun terakhir, nilai indikator ini tercatat sebesar 162.660 Rp juta, mengalami penurunan sebesar 16,22 persen dibandingkan tahun 2024. Secara historis selama 16 tahun periode pengamatan, nilai indikator ini menunjukkan tren turun keseluruhan, dengan penurunan total mencapai 57,9 persen sejak pertama kali dicatat pada tahun 2010.
(Baca: Harga Kopi Kontrak Tiga Bulan - US Coffee C Futures Naik Selama Tiga Hari Terakhir)
Dalam tiga tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan indikator ini mengalami penurunan sebesar 11,53 persen per tahun, kondisi ini lebih buruk dibandingkan rata-rata lima tahun terakhir yang masih mencatatkan pertumbuhan sedikit positif sebesar 0,18 persen. Pencapaian nilai tertinggi sepanjang sejarah terjadi pada tahun 2015 dengan nilai 538.490 Rp juta, sedangkan anomali penurunan terendah tercatat pada tahun 2011 dimana nilai indikator menjadi negatif minus 499.845 Rp juta.
Untuk posisi tahun 2025, Kabupaten Tanjung Jabung Barat menempati peringkat 11 dari seluruh kabupaten/kota di Pulau Sumatera, serta peringkat 61 secara nasional. Peringkat ini mengalami peningkatan 3 tingkatan dibandingkan posisi tahun 2024 yang berada di urutan 14 wilayah Sumatera. Nilai perubahan tahun 2025 sebesar 194.140 Rp juta berada di bawah nilai rata-rata seluruh periode pengamatan yang mencapai 227.332 Rp juta.
Kabupaten Wonosobo
Kabupaten Wonosobo menempati peringkat 58 secara nasional untuk indikator yang sama pada periode yang sama, dengan nilai tahun terakhir tercatat 169.850 Rp juta. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sedikit positif sebesar 0,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan selisih perubahan nilai sebesar 1.360 Rp juta. Posisi peringkat Wonosobo berada 3 tingkat di atas Kabupaten Tanjung Jabung Barat secara nasional, dengan selisih nilai total sekitar 7.190 Rp juta lebih tinggi dari nilai Jambi.
Kabupaten Kediri
Kabupaten Kediri mencatatkan nilai PDRB ADHK Inventori tahun 2025 sebesar 166.320 Rp juta, berada di peringkat 59 nasional dan peringkat 40 wilayah Pulau Jawa. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,65 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi salah satu pertumbuhan tertinggi diantara wilayah perbandingan. Nilai wilayah ini 3.660 Rp juta lebih tinggi dibandingkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan selisih peringkat hanya 2 tingkat secara nasional.
Kabupaten Asahan
(Baca: Statistik Jumlah Kabupaten di Indonesia Periode 2013-2025)
Kabupaten Asahan sebagai satu-satunya wilayah lain dari Pulau Sumatera dalam daftar perbandingan, menempati peringkat 10 wilayah Sumatera dan peringkat 60 secara nasional. Nilai indikator tahun 2025 untuk wilayah ini tercatat 164.310 Rp juta, mengalami penurunan cukup dalam sebesar 43,01 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkat Asahan hanya 1 tingkat di atas Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan selisih nilai hanya sekitar 1.650 Rp juta antara kedua wilayah Sumatera ini.
Kabupaten Cilacap
Kabupaten Cilacap mencatatkan nilai tahun terakhir sebesar 157.600 Rp juta, berada di peringkat 62 secara nasional dan peringkat 41 wilayah Pulau Jawa. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 44,94 persen pada tahun 2025, salah satu penurunan terbesar diantara seluruh wilayah perbandingan. Nilai indikator Cilacap berada 5.060 Rp juta lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan peringkat 1 tingkat di bawahnya secara nasional.
Kabupaten Landak
Kabupaten Landak asal Pulau Kalimantan menempati peringkat 63 secara nasional dengan nilai indikator tahun 2025 sebesar 155.700 Rp juta. Wilayah ini mengalami penurunan sebesar 34,76 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menempati peringkat 5 wilayah terbaik di Pulau Kalimantan untuk indikator ini. Nilai Landak tercatat 6.960 Rp juta lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, dengan peringkat 2 tingkat di bawah secara nasional.
Kabupaten Jepara
Kabupaten Jepara mencatatkan nilai PDRB ADHK Inventori tahun 2025 sebesar 153.800 Rp juta, berada di peringkat 64 secara nasional dan peringkat 42 wilayah Pulau Jawa. Wilayah ini kembali mencatatkan pertumbuhan sedikit positif sebesar 5,47 persen setelah mengalami penurunan pada tahun sebelumnya. Nilai indikator Jepara tercatat 8.860 Rp juta lebih rendah dibandingkan Kabupaten Tanjung Jabung Barat, menjadi wilayah dengan peringkat terendah dalam daftar perbandingan ini.