Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Pengadaan Listrik dan Gas Provinsi Gorontalo pada kuartal II tahun 2025 sebesar 6,87 Rp miliar. Dibandingkan kuartal sebelumnya (kuartal I 2025) sebesar 6,72 Rp miliar, terjadi kenaikan sebesar 0,15 Rp miliar dengan pertumbuhan 2,23%. Rata-rata nilai selama tiga kuartal sebelum kuartal II 2025 adalah sekitar 6,55 Rp miliar, sehingga nilai saat ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata tersebut. Sementara rata-rata lima kuartal sebelumnya mencapai sekitar 6,57 Rp miliar, yang menunjukkan kondisi saat ini masih berada di atas rata-rata tersebut.
(Baca: PDRB ADHB di Kota Batu Menurut Sektor pada 2024)
Kenaikan tertinggi dalam periode historis (2010 hingga 2025) terjadi pada kuartal IV tahun 2016 dengan pertumbuhan 32,13% dibandingkan kuartal sebelumnya, sementara penurunan terendah terjadi pada kuartal II tahun 2015 dengan pertumbuhan negatif 16,25%. Selama periode tersebut, nilai PDRB ADHB ini umumnya menunjukkan tren kenaikan meskipun ada beberapa periode penurunan, seperti pada kuartal II 2015 dan kuartal III 2021. Fluktuasi ini terjadi karena perubahan dalam volume pengadaan listrik dan gas di provinsi Gorontalo selama beberapa tahun terakhir, dengan beberapa periode mengalami peningkatan signifikan dan beberapa periode mengalami penurunan.
Pada kuartal II 2025, Gorontalo menempati peringkat ke-5 di Pulau Sulawesi untuk indikator ini, sama seperti peringkatnya di kuartal sebelumnya. Secara nasional, provinsi ini berada di peringkat ke-35, yang juga tidak mengalami perubahan dibandingkan kuartal I 2025. Dibandingkan provinsi lain di Sulawesi yang termasuk dalam data perbandingan, Sulawesi Barat berada di peringkat ke-6 di Pulau Sulawesi dengan nilai 6,24 Rp miliar, sehingga Gorontalo memiliki nilai yang lebih tinggi dan peringkat yang lebih baik.
Papua Barat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Pengadaan Listrik dan Gas Provinsi Papua Barat pada kuartal II tahun 2025 sebesar 8,22 Rp miliar. Dibandingkan kuartal sebelumnya, nilai ini mengalami penurunan sebesar 0,07 Rp miliar dengan pertumbuhan negatif 0,84%. Rata-rata nilai selama tiga kuartal sebelum periode ini menunjukkan angka yang stabil di sekitar 8,19 Rp miliar, sehingga nilai saat ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata tersebut. Secara nasional, Papua Barat menempati peringkat ke-32, sementara di Pulau Papua provinsi ini berada di peringkat ke-2. Dibandingkan provinsi lain di Pulau Papua seperti Papua Tengah yang memiliki nilai 8,01 Rp miliar, Papua Barat memiliki nilai yang lebih tinggi dan peringkat yang lebih baik. Pertumbuhan negatif ini merupakan perubahan dari tren kenaikan yang terjadi pada beberapa kuartal sebelumnya, menunjukkan adanya fluktuasi dalam pengadaan listrik dan gas di provinsi ini selama beberapa periode terakhir.
Papua Tengah
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Pengadaan Listrik dan Gas Provinsi Papua Tengah pada kuartal II tahun 2025 sebesar 8,01 Rp miliar. Dibandingkan kuartal sebelumnya, terjadi penurunan sebesar 0,05 Rp miliar dengan pertumbuhan negatif 0,62%. Rata-rata nilai selama tiga kuartal sebelum periode ini adalah sekitar 8,11 Rp miliar, sehingga nilai saat ini sedikit lebih rendah dibandingkan rata-rata tersebut. Secara nasional, Papua Tengah berada di peringkat ke-33, sementara di Pulau Papua provinsi ini menempati peringkat ke-3. Dibandingkan Papua Barat yang memiliki nilai 8,22 Rp miliar, Papua Tengah memiliki nilai yang lebih rendah, namun masih lebih tinggi dibandingkan Papua Barat Daya dengan nilai 7,79 Rp miliar. Penurunan ini menunjukkan bahwa pengadaan listrik dan gas di provinsi ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan periode sebelumnya, meskipun nilai masih berada di tingkat yang cukup stabil selama beberapa kuartal terakhir.
(Baca: Persentase Penduduk Miskin di Perkotaan Periode 2013-2025)
Papua Barat Daya
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Pengadaan Listrik dan Gas Provinsi Papua Barat Daya pada kuartal II tahun 2025 sebesar 7,79 Rp miliar. Dibandingkan kuartal sebelumnya, terjadi kenaikan sebesar 0,08 Rp miliar dengan pertumbuhan 1,04%. Rata-rata nilai selama tiga kuartal sebelum periode ini adalah sekitar 7,76 Rp miliar, sehingga nilai saat ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata tersebut. Secara nasional, Papua Barat Daya berada di peringkat ke-34, sementara di Pulau Papua provinsi ini menempati peringkat ke-4. Dibandingkan Papua Tengah dengan nilai 8,01 Rp miliar, Papua Barat Daya memiliki nilai yang lebih rendah, namun masih lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Barat dengan nilai 6,24 Rp miliar. Kenaikan ini merupakan perubahan dari penurunan yang terjadi pada kuartal sebelumnya, menunjukkan adanya fluktuasi dalam pengadaan listrik dan gas di provinsi ini selama beberapa periode terakhir.
Sulawesi Barat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Pengadaan Listrik dan Gas Provinsi Sulawesi Barat pada kuartal II tahun 2025 sebesar 6,24 Rp miliar. Dibandingkan kuartal sebelumnya, terjadi penurunan sebesar 0,96 Rp miliar dengan pertumbuhan negatif 13,33%. Rata-rata nilai selama tiga kuartal sebelum periode ini adalah sekitar 6,81 Rp miliar, sehingga nilai saat ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata tersebut. Secara nasional, Sulawesi Barat berada di peringkat ke-36, sementara di Pulau Sulawesi provinsi ini menempati peringkat ke-6. Dibandingkan Gorontalo yang memiliki nilai 6,87 Rp miliar, Sulawesi Barat memiliki nilai yang lebih rendah dan peringkat yang lebih buruk. Penurunan signifikan ini menunjukkan adanya perubahan yang cukup besar dalam pengadaan listrik dan gas di provinsi ini, yang membuat nilai saat ini jauh di bawah rata-rata periode sebelumnya.
Papua Selatan
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai PDRB ADHB Pengadaan Listrik dan Gas Provinsi Papua Selatan pada kuartal II tahun 2025 sebesar 3,37 Rp miliar. Dibandingkan kuartal sebelumnya, terjadi kenaikan sebesar 0,03 Rp miliar dengan pertumbuhan 0,9%. Rata-rata nilai selama tiga kuartal sebelum periode ini adalah sekitar 3,32 Rp miliar, sehingga nilai saat ini sedikit lebih tinggi dibandingkan rata-rata tersebut. Secara nasional, Papua Selatan berada di peringkat ke-37, sementara di Pulau Papua provinsi ini menempati peringkat ke-5. Dibandingkan Papua Barat Daya dengan nilai 7,79 Rp miliar, Papua Selatan memiliki nilai yang jauh lebih rendah, namun masih lebih tinggi dibandingkan Papua Pegunungan dengan nilai 2,04 Rp miliar. Kenaikan kecil ini menunjukkan bahwa pengadaan listrik dan gas di provinsi ini mengalami sedikit peningkatan dibandingkan periode sebelumnya, meskipun nilai masih berada di tingkat yang rendah dibandingkan provinsi lain di Pulau Papua.