Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHK Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang Jawa Barat pada kuartal kedua 2025 sebesar 399,87 Rp miliar, mengalami penurunan sedikit sebesar 1,25% dibandingkan kuartal pertama 2025 yang mencapai 404,94 Rp miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir (kuartal keempat 2024 hingga kuartal kedua 2025) sebesar 398,02 Rp miliar, sehingga nilai kuartal kedua 2025 berada di atas rata-rata tersebut. Sedangkan rata-rata lima kuartal terakhir (kuartal kedua 2024 hingga kuartal kedua 2025) sebesar 390,47 Rp miliar, dengan nilai kuartal kedua 2025 juga berada di atas rata-rata ini. Kenaikan tertinggi dalam data historis terjadi pada kuartal kedua 2024 dengan pertumbuhan 10,47%, sedangkan penurunan terendah terjadi pada kuartal kedua 2020 dengan pertumbuhan minus 7,22%.
(Baca: PDRB ADHB Sektor Pertanian, Kehutanan, Perikanan Periode 2013-2024)
Perbandingan kuartal kedua 2025 menunjukkan Jawa Barat menempati peringkat kedua di Pulau Jawa dan se-Indonesia dalam indikator ini, di belakang Jawa Timur yang menempati peringkat pertama. Nilai PDRB ADHK Jawa Barat sebesar 399,87 Rp miliar lebih rendah dibandingkan Jawa Timur yang mencapai 482,93 Rp miliar, namun jauh lebih tinggi dibandingkan Jawa Tengah (200,37 Rp miliar), DKI Jakarta (199,44 Rp miliar), dan Kalimantan Selatan (180,35 Rp miliar). Pertumbuhan Jawa Barat sebesar minus 1,25% juga lebih rendah dibandingkan Jawa Timur (2,2%), Jawa Tengah (1,57%), dan Kalimantan Selatan (4,64%), namun lebih tinggi dibandingkan DKI Jakarta yang mengalami penurunan sedikit sebesar 0,54%.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati peringkat pertama se-Indonesia dan di Pulau Jawa dalam PDRB ADHK Sektor Pengadaan Air, Pengelolaan Sampah, Limbah dan Daur Ulang pada kuartal kedua 2025 dengan nilai sebesar 482,93 Rp miliar. Nilai ini mengalami kenaikan sebesar 2,2% dibandingkan kuartal pertama 2025 yang mencapai 472,53 Rp miliar, dengan selisih nilai sebesar 10,4 Rp miliar. Rata-rata nilai tiga kuartal terakhir untuk Jawa Timur menunjukkan performa yang stabil di atas 470 Rp miliar, dengan pertumbuhan yang konsisten positif. Peringkat Jawa Timur tetap di posisi pertama selama lima kuartal terakhir, menunjukkan dominasi wilayah ini dalam sektor tersebut di seluruh Indonesia. Nilai kuartal kedua 2025 juga berada di atas rata-rata lima kuartal terakhir, yang menunjukkan tren pertumbuhan yang berkelanjutan tanpa mengalami penurunan signifikan dalam periode tersebut.
Jawa Barat
Jawa Barat menempati peringkat kedua se-Indonesia dan di Pulau Jawa pada kuartal kedua 2025 dengan nilai PDRB ADHK sebesar 399,87 Rp miliar, mengalami penurunan sedikit sebesar 1,25% dibandingkan kuartal pertama 2025 (404,94 Rp miliar) dengan selisih nilai minus 5,07 Rp miliar. Rata-rata tiga kuartal terakhir sebesar 398,02 Rp miliar, sehingga nilai kuartal kedua 2025 berada di atas rata-rata tersebut. Selama lima kuartal terakhir, Jawa Barat tetap mempertahankan peringkat kedua, tidak mengalami perubahan posisi baik di Pulau Jawa maupun se-Indonesia. Nilai kuartal kedua 2025 juga lebih tinggi dibandingkan rata-rata lima kuartal terakhir yang sebesar 390,47 Rp miliar, menunjukkan bahwa meskipun mengalami penurunan dalam kuartal ini, performa secara keseluruhan dalam lima kuartal terakhir masih menunjukkan tren positif.
(Baca: Harga Bawang Putih Ukuran sedang di Pasar Tradisional Periode Februari 2025-2026)
Jawa Tengah
Jawa Tengah menempati peringkat ketiga di Pulau Jawa dan se-Indonesia pada kuartal kedua 2025 dengan nilai PDRB ADHK sebesar 200,37 Rp miliar, mengalami kenaikan sebesar 1,57% dibandingkan kuartal pertama 2025 (197,28 Rp miliar) dengan selisih nilai sebesar 3,09 Rp miliar. Nilai kuartal kedua 2025 berada di atas rata-rata tiga kuartal terakhir yang sebesar sekitar 199 Rp miliar, menunjukkan performa yang meningkat secara bertahap. Selama lima kuartal terakhir, Jawa Tengah tetap mempertahankan peringkat ketiga, tidak mengalami perubahan posisi di Pulau Jawa maupun se-Indonesia. Pertumbuhan positif sebesar 1,57% ini menunjukkan bahwa sektor tersebut di Jawa Tengah terus berkembang, dengan nilai yang konsisten naik setiap kuartal tanpa mengalami penurunan signifikan dalam periode lima kuartal terakhir.
DKI Jakarta
DKI Jakarta menempati peringkat keempat di Pulau Jawa dan se-Indonesia pada kuartal kedua 2025 dengan nilai PDRB ADHK sebesar 199,44 Rp miliar, mengalami penurunan sedikit sebesar 0,54% dibandingkan kuartal pertama 2025 (200,53 Rp miliar) dengan selisih nilai minus 1,09 Rp miliar. Nilai kuartal kedua 2025 berada di bawah rata-rata tiga kuartal terakhir yang sebesar sekitar 202 Rp miliar, menunjukkan performa yang sedikit menurun dalam kuartal ini. Selama lima kuartal terakhir, DKI Jakarta tetap mempertahankan peringkat keempat, tidak mengalami perubahan posisi di Pulau Jawa maupun se-Indonesia. Meskipun mengalami penurunan sedikit dalam kuartal kedua 2025, nilai DKI Jakarta masih berada di atas rata-rata lima kuartal terakhir, yang menunjukkan bahwa performa secara keseluruhan masih stabil tanpa fluktuasi yang signifikan.
Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan menempati peringkat kelima se-Indonesia dan peringkat pertama di Pulau Kalimantan pada kuartal kedua 2025 dengan nilai PDRB ADHK sebesar 180,35 Rp miliar, mengalami kenaikan sebesar 4,64% dibandingkan kuartal pertama 2025 (172,35 Rp miliar) dengan selisih nilai sebesar 8 Rp miliar. Nilai kuartal kedua 2025 berada di atas rata-rata tiga kuartal terakhir yang sebesar sekitar 177 Rp miliar, menunjukkan performa yang meningkat secara signifikan. Selama lima kuartal terakhir, Kalimantan Selatan tetap mempertahankan peringkat kelima se-Indonesia dan pertama di Pulau Kalimantan, menunjukkan dominasi wilayah ini dalam sektor tersebut di Kalimantan. Pertumbuhan tertinggi di antara lima provinsi yang dibandingkan ini menunjukkan bahwa sektor pengelolaan air dan sampah di Kalimantan Selatan sedang berkembang dengan pesat, dengan nilai yang konsisten naik setiap kuartal dalam periode lima kuartal terakhir.