Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB sektor perdagangan besar dan eceran, bukan mobil dan sepeda motor di Jawa Barat mencapai Rp 361.09 triliun pada tahun 2024. Terjadi pertumbuhan positif sebesar 8.65% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan peningkatan aktivitas ekonomi di sektor perdagangan Jawa Barat. Nilai PDRB ini lebih besar Rp 28.74 triliun dibandingkan tahun 2023.
Secara historis, pertumbuhan PDRB perdagangan Jawa Barat dalam 5 tahun terakhir menunjukkan tren yang fluktuatif. Sempat mengalami kontraksi turun 4.23% pada tahun 2020 menjadi anomali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang selalu mengalami pertumbuhan. Namun, setelah itu kembali menunjukkan pertumbuhan positif. Dibandingkan dengan rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir (2022-2024) sebesar 9.2%, pertumbuhan tahun 2024 sedikit lebih rendah. Dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir (2020-2024) sebesar 4.46%, pertumbuhan 2024 jauh lebih tinggi. Kenaikan tertinggi dalam periode ini terjadi pada tahun 2019 yang mencapai 12.42%.
(Baca: Kredit Bank Umum Lapangan Usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Periode 2015-2025)
Pada tahun 2024, Jawa Barat menempati peringkat ke-3 di Pulau Jawa dan peringkat ke-3 secara nasional dalam kontribusi PDRB sektor perdagangan. DKI Jakarta masih menjadi yang tertinggi dengan nilai Rp 580.55 triliun, disusul Jawa Timur dengan Rp 446.39 triliun. Meskipun berada di peringkat ke-3, Jawa Barat menunjukkan pertumbuhan yang solid dan berpotensi untuk terus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Kenaikan terendah PDRB perdagangan Jawa Barat dalam data historis terjadi pada tahun 2014, yaitu sebesar 5.78%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahunan. Meskipun demikian, tidak ada kontraksi atau penurunan nilai PDRB secara absolut selama periode tersebut.
Secara keseluruhan, sektor perdagangan di Jawa Barat menunjukkan resiliensi dan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan kondisi ekonomi. Pertumbuhan positif pada tahun 2024 mengindikasikan bahwa sektor ini masih menjadi salah satu penggerak utama perekonomian Jawa Barat.
DKI Jakarta
DKI Jakarta memimpin dengan nilai PDRB sektor perdagangan mencapai Rp 580.55 triliun, menduduki peringkat pertama di Pulau Jawa dan secara nasional. Pertumbuhan sebesar 9.97% menunjukkan dinamika ekonomi yang kuat di ibukota. Dengan selisih nilai yang cukup signifikan dibandingkan provinsi lain, DKI Jakarta menjadi pusat perdagangan utama di Indonesia.
(Baca: Produksi Tomat Periode 2013-2024)
Jawa Timur
Jawa Timur menempati urutan kedua di Pulau Jawa dan Indonesia dengan nilai PDRB sektor perdagangan sebesar Rp 446.39 triliun. Pertumbuhan sebesar 6.9% menunjukkan stabilitas ekonomi yang baik. Selisih nilai dengan DKI Jakarta cukup besar, namun Jawa Timur tetap menjadi kontributor signifikan terhadap perekonomian nasional di sektor perdagangan.
Jawa Barat
Dengan nilai PDRB sebesar Rp 361.09 triliun, Jawa Barat menduduki peringkat ketiga baik di Pulau Jawa maupun secara nasional. Pertumbuhan sebesar 8.65% menunjukkan peningkatan yang solid, meskipun masih berada di bawah DKI Jakarta dan Jawa Timur. Potensi pertumbuhan Jawa Barat masih terbuka lebar, terutama dengan pengembangan infrastruktur dan peningkatan daya saing.
Sumatera Utara
Sumatera Utara menduduki peringkat pertama di Pulau Sumatera dan peringkat keempat secara nasional dengan nilai PDRB sektor perdagangan sebesar Rp 200.49 triliun. Pertumbuhan sebesar 8.05% menunjukkan perkembangan ekonomi yang menjanjikan di wilayah Sumatera. Sebagai pusat perdagangan di Sumatera, Sumatera Utara memiliki potensi untuk terus meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional.
Jawa Tengah
Jawa Tengah berada di urutan kelima secara nasional dengan nilai PDRB sektor perdagangan sebesar Rp 193.32 triliun. Pertumbuhan sebesar 7.3% menunjukkan stabilitas ekonomi yang baik. Meskipun berada di bawah provinsi lain di Jawa, Jawa Tengah tetap menjadi kontributor penting terhadap perekonomian nasional dengan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan.