Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah rumah ibadah klentheng (Konghucu) di Kalimantan Tengah pada tahun 2025 sebesar 2 Unit. Dari data historis, pertumbuhan jumlah klentheng pada tahun ini stagnan (0%) dibandingkan tahun sebelumnya, tanpa ada selisih nilai. Dibandingkan rata-rata 3 tahun terakhir (2023-2025: 2, 2, 2 Unit ? rata-rata 2 Unit), nilai tahun 2025 sama dengan rata-rata tersebut, namun lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir (2021-2025:10,10,2,2,2 Unit ? rata-rata 5.2 Unit). Kenaikan tertinggi terjadi pada 2019 sebesar 871.43% dari 7 Unit menjadi 68 Unit, sementara penurunan terbesar terjadi pada 2021 turun 85.29% dari 68 Unit menjadi 10 Unit. Pada tahun 2025, Kalimantan Tengah menempati peringkat 4 di pulau Kalimantan dan peringkat 17 se-Indonesia untuk jumlah klentheng.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa Kota Denpasar | 2024)
Kalimantan Timur
Kalimantan Timur menempati peringkat 2 di pulau Kalimantan dan 14 se-Indonesia untuk jumlah rumah ibadah klentheng pada tahun terakhir. Nilai tahun terakhir di provinsi ini sebesar 3 Unit, dengan pertumbuhan turun 25% dibandingkan tahun sebelumnya (selisih -1 Unit). Dibandingkan dua tahun sebelumnya yang memiliki 4 Unit, jumlah klentheng di Kalimantan Timur mengalami penurunan sedikit. Dalam konteks pulau Kalimantan, Kalimantan Utara berada di peringkat yang sama dengan Kalimantan Timur, dan lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah (peringkat 4). Jumlah klentheng di Kalimantan Timur sama dengan Sulawesi Selatan dan Kalimantan Utara, namun pada tahun terakhir mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkat se-Indonesia yang sama dengan Kalimantan Utara dan Sulawesi Selatan menunjukkan bahwa ketiga provinsi ini berada dalam kelompok yang memiliki jumlah klentheng yang relatif sama.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan menempati peringkat 2 di pulau Sulawesi dan 14 se-Indonesia untuk jumlah rumah ibadah klentheng. Nilai tahun terakhir di provinsi ini sebesar 3 Unit, dengan pertumbuhan sebesar 50% dibandingkan tahun sebelumnya (selisih 1 Unit). Dibandingkan dua tahun sebelumnya yang memiliki 38 Unit, jumlah klentheng di Sulawesi Selatan mengalami penurunan yang signifikan, namun pada tahun terakhir terjadi kenaikan sedikit dari nilai tahun sebelumnya (2 Unit). Dibandingkan Kalimantan Tengah (2 Unit), Sulawesi Selatan memiliki jumlah klentheng yang lebih banyak, dengan peringkat se-Indonesia yang sama dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. Pertumbuhan positif pada tahun terakhir menunjukkan adanya penambahan klentheng di Sulawesi Selatan setelah periode penurunan yang besar, meskipun jumlahnya masih jauh lebih rendah dibandingkan dua tahun sebelumnya.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara menempati peringkat 2 di pulau Kalimantan dan 14 se-Indonesia untuk jumlah rumah ibadah klentheng. Nilai tahun terakhir di provinsi ini sebesar 3 Unit, dengan pertumbuhan 0% dibandingkan tahun sebelumnya (tidak ada selisih nilai). Dibandingkan dua tahun sebelumnya yang memiliki 5 Unit, jumlah klentheng di Kalimantan Utara mengalami penurunan sedikit. Dalam konteks pulau Kalimantan, Kalimantan Utara berada di peringkat yang sama dengan Kalimantan Timur, dan lebih tinggi dibandingkan Kalimantan Tengah (peringkat 4). Jumlah klentheng di Kalimantan Utara sama dengan Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur, namun stagnan pada tahun terakhir tanpa adanya pertumbuhan atau penurunan. Peringkat se-Indonesia yang sama dengan dua provinsi lain menunjukkan bahwa ketiga provinsi ini memiliki jumlah klentheng yang relatif stabil pada tahun terakhir.
(Baca: Nilai PDRB ADHB Pertambangan dan Penggalian di Bengkulu | 2025)
Bali
Bali menempati peringkat 1 di pulau Nusa Tenggara dan Bali serta 17 se-Indonesia untuk jumlah rumah ibadah klentheng. Nilai tahun terakhir di provinsi ini sebesar 2 Unit, dengan pertumbuhan -33.33% dibandingkan tahun sebelumnya (selisih -1 Unit). Dibandingkan dua tahun sebelumnya yang memiliki 34 Unit, jumlah klentheng di Bali mengalami penurunan yang sangat besar, dan pada tahun terakhir tetap sedikit lebih rendah dibandingkan beberapa provinsi lain seperti Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan. Peringkat se-Indonesia Bali sama dengan Kalimantan Tengah, menunjukkan kedua provinsi memiliki jumlah klentheng yang sama (2 Unit) pada tahun terakhir. Pertumbuhan negatif pada tahun terakhir menunjukkan adanya penurunan jumlah klentheng di Bali dibandingkan tahun sebelumnya, setelah periode penurunan yang signifikan dari dua tahun sebelumnya.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta menempati peringkat 5 di pulau Jawa dan 17 se-Indonesia untuk jumlah rumah ibadah klentheng. Nilai tahun terakhir di provinsi ini sebesar 2 Unit, dengan pertumbuhan 100% dibandingkan tahun sebelumnya (selisih 1 Unit). Dibandingkan dua tahun sebelumnya yang memiliki 2 Unit, jumlah klentheng di DI Yogyakarta stagnan selama dua tahun sebelum mengalami kenaikan sedikit pada tahun terakhir. Peringkat se-Indonesia DI Yogyakarta sama dengan Kalimantan Tengah, Bali, dan Banten, dengan jumlah klentheng yang sama (2 Unit). Pertumbuhan positif pada tahun terakhir menunjukkan adanya penambahan klentheng di DI Yogyakarta setelah periode stagnan, meskipun jumlahnya masih sama dengan beberapa provinsi lain di pulau Jawa dan luar Jawa. Dalam konteks pulau Jawa, DI Yogyakarta berada di peringkat yang sama dengan Banten, menunjukkan kedua provinsi ini memiliki jumlah klentheng yang relatif sedikit dibandingkan provinsi lain di pulau tersebut.
Banten
Banten menempati peringkat 5 di pulau Jawa dan 17 se-Indonesia untuk jumlah rumah ibadah klentheng. Nilai tahun terakhir di provinsi ini sebesar 2 Unit, dengan pertumbuhan -80% dibandingkan tahun sebelumnya (selisih -8 Unit). Dibandingkan dua tahun sebelumnya yang memiliki 32 Unit, jumlah klentheng di Banten mengalami penurunan yang sangat besar, dan pada tahun terakhir tetap di 2 Unit. Peringkat se-Indonesia Banten sama dengan Kalimantan Tengah, DI Yogyakarta, dan Bali, dengan jumlah klentheng yang sama. Penurunan terbesar terjadi pada tahun terakhir dibandingkan tahun sebelumnya, menunjukkan adanya penurunan signifikan jumlah klentheng di Banten setelah periode yang memiliki jumlah yang lebih banyak. Dalam konteks pulau Jawa, Banten berada di peringkat yang sama dengan DI Yogyakarta, menunjukkan kedua provinsi ini memiliki jumlah klentheng yang relatif sedikit dibandingkan provinsi lain di pulau tersebut.