Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Angka Partisipasi Murni SMP Provinsi Bali pada akhir tahun 2025 sebesar 84,81 persen. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 1,49 persen dibandingkan tahun 2024 sebelumnya. Selama 30 tahun periode pengamatan sejak 1996, angka partisipasi ini menunjukkan tren naik secara keseluruhan dengan peningkatan total 31,22 persen dari nilai awal 64,63 persen. Rata-rata pertumbuhan tahunan selama seluruh periode mencapai 0,94 persen.
(Baca: Top 10 Youtuber Indonesia Mingguan | 04 Jul 2026)
Pada 3 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan APM SMP Bali tercatat minus 0,78 persen, sementara rata-rata 5 tahun terakhir mencapai minus 0,56 persen. Hal ini menunjukkan kondisi partisipasi sekolah menengah pertama di pulau ini mengalami penurunan yang lebih dalam dalam tiga tahun belakangan dibandingkan lima tahun periode sebelumnya. Puncak tertinggi angka partisipasi pernah tercatat pada tahun 2020 dengan nilai 87,26 persen, sementara nilai terendah terjadi pada awal periode pengamatan tahun 1996.
Sepanjang riwayat data, kenaikan tahunan tertinggi terjadi pada tahun 2013 dengan penambahan nilai 6,23 poin persen, sedangkan penurunan terbesar tercatat pada tahun 2007 dengan pengurangan 3,46 poin persen. Dari total 30 tahun pengamatan, tercatat 21 periode mengalami kenaikan nilai, 8 periode mengalami penurunan, dan tidak ada periode yang mengalami stagnasi nilai. Untuk tahun 2025, Bali menempati peringkat pertama di wilayah Pulau Nusa Tenggara dan Bali, serta peringkat ketiga secara nasional.
Pada perbandingan nasional tahun terbaru, nilai APM SMP Bali berada di bawah DI Yogyakarta yang menempati peringkat pertama dengan nilai 88,67 persen dan DKI Jakarta di peringkat kedua 87,55 persen. Bali mencatat nilai lebih tinggi dibandingkan Jawa Timur yang berada di peringkat keempat dan Jawa Barat di peringkat kelima. Sementara itu, pertumbuhan tahunan Bali pada tahun terakhir tercatat minus 1,73 persen, lebih dalam penurunannya dibandingkan tiga provinsi teratas lain di daftar peringkat nasional.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta menempati posisi pertama nasional untuk indikator APM SMP tahun 2025 dengan nilai akhir 88,67 persen. Wilayah ini mencatat penurunan nilai sebesar 1,47 poin persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan persentase pertumbuhan tahunan minus 1,63 persen. Meskipun mengalami penurunan, nilai partisipasi di provinsi ini tetap tertinggi se-Indonesia, mengungguli seluruh provinsi lain termasuk wilayah di Pulau Jawa maupun luar pulau dengan selisih nilai lebih dari satu poin persen dari peringkat kedua.
DKI Jakarta
DKI Jakarta berada di peringkat kedua nasional dengan nilai APM SMP tahun 2025 sebesar 87,55 persen. Provinsi ini mengalami penurunan nilai sebesar 1,12 poin persen dari tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan tercatat minus 1,26 persen. Nilai ini berada 1,12 poin persen di bawah DI Yogyakarta namun masih 2,74 poin persen lebih tinggi dibandingkan nilai yang dicapai Provinsi Bali pada periode yang sama. Selama periode lima tahun terakhir, DKI Jakarta secara konsisten berada di tiga besar nasional untuk indikator ini.
(Baca: Persentase Rumah Tangga dengan Status Kepemilikan Rumah Bebas Sewa di DKI Jakarta Tertinggi pada 2024)
Bali
Bali menduduki peringkat ketiga nasional dan peringkat pertama di wilayah Nusa Tenggara dan Bali untuk tahun 2025 dengan nilai APM SMP 84,81 persen. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 1,49 poin persen dari tahun sebelumnya, dengan persentase pertumbuhan minus 1,73 persen. Bali menjadi satu-satunya provinsi di luar Pulau Jawa yang masuk dalam lima besar peringkat nasional indikator ini, mengungguli seluruh provinsi di wilayah timur Indonesia serta beberapa provinsi besar di Pulau Jawa.
Jawa Timur
Jawa Timur menempati posisi keempat nasional dengan nilai APM SMP tahun 2025 sebesar 84,49 persen. Provinsi ini mengalami penurunan nilai yang sangat sedikit yaitu 0,03 poin persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan tahunan tercatat minus 0,04 persen. Nilai partisipasi di Jawa Timur hanya terpaut 0,32 poin persen di bawah nilai Bali, menjadikan kedua provinsi ini memiliki persaingan sangat ketat untuk posisi tiga besar nasional pada periode tahun berikutnya.
Jawa Barat
Jawa Barat berada di peringkat kelima nasional untuk indikator APM SMP tahun 2025 dengan nilai akhir 83,84 persen. Provinsi ini mencatat penurunan nilai sebesar 0,77 poin persen dari tahun sebelumnya, dengan persentase pertumbuhan tahunan minus 0,91 persen. Nilai ini berada 0,65 poin persen di bawah Jawa Timur dan 0,97 poin persen di bawah nilai Bali pada periode yang sama. Meskipun menempati urutan kelima, nilai partisipasi Jawa Barat masih berada di atas rata-rata nasional untuk indikator ini.