Kementerian Pertanian - Direktorat Jenderal Perkebunan mencatat produksi kakao di Maluku Utara pada tahun 2024 sebesar 7.42 Ton. Data historis menunjukkan adanya penurunan produksi dibandingkan tahun sebelumnya, dengan pertumbuhan 0%. Meskipun demikian, angka ini sama dengan nilai produksi tahun 2023.
Produksi kakao di Maluku Utara dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi. Pada tahun 2019, produksi mencapai 9.6 Ton, kemudian sedikit menurun menjadi 9.3 Ton pada tahun 2020 dan 2021. Penurunan signifikan terjadi pada tahun 2022 menjadi 7.6 Ton. Jika dibandingkan dengan rata-rata produksi selama 3 tahun terakhir (2021-2023) yaitu 8.23 Ton, produksi tahun 2024 lebih rendah. Namun jika dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir (2019-2023) yaitu 8.7 Ton, produksi tahun 2024 juga masih lebih rendah.
(Baca: Harga Bawang Putih Ukuran sedang di Kalimantan Barat Rp.79.900 per Kg (Senin, 12 Januari 2026))
Secara historis, kenaikan produksi tertinggi terjadi pada tahun 2009 dengan pertumbuhan 4.8% dan nilai produksi mencapai 13.1 Ton. Penurunan terendah terjadi pada tahun 2011 dengan pertumbuhan -24.03% dan nilai produksi 9.8 Ton. Pada tahun 2024, Maluku Utara menempati peringkat ke-2 produksi kakao di pulau Maluku dan peringkat ke-13 secara nasional.
Berdasarkan data perbandingan, di pulau Maluku, Nusa Tenggara Timur menempati peringkat pertama dengan nilai produksi 19.73 Ton. Pertumbuhan produksi kakao di Maluku Utara lebih rendah dibandingkan dengan beberapa provinsi lain seperti Bali yang mengalami pertumbuhan 9.55%.
Anomali terlihat pada tahun 2011, dimana terjadi penurunan produksi yang signifikan. Meskipun demikian, produksi kakao di Maluku Utara cenderung stabil dalam dua tahun terakhir, meski masih di bawah rata-rata produksi dalam lima tahun sebelumnya.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati urutan pertama dengan produksi kakao mencapai 19.73 Ton. Meski begitu, daerah ini mengalami penurunan pertumbuhan turun 5.6%. Sementara ranking secara nasional, Nusa Tenggara Timur berada pada posisi ke-10. Terjadi selisih nilai -1.17 Ton dibandingkan tahun sebelumnya.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Aneka Barang dan Jasa Kab. Polewali Mandar | 2024)
Maluku
Maluku menempati peringkat kedua di pulau Maluku dengan nilai produksi kakao 8.53 Ton. Pertumbuhannya stabil, hanya meningkat 0.35%. Peringkat secara nasional adalah ke-11, menunjukkan posisi yang cukup baik dalam produksi kakao di Indonesia. Ada selisih nilai sedikit 0.03 Ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Papua
Provinsi Papua memiliki produksi kakao sebesar 8 Ton dan menempati ranking ke-12 secara nasional. Terjadi penurunan tipis pada pertumbuhan produksi kakao di Papua yaitu -0.12%. Ini menunjukkan bahwa produksi kakao di Papua relatif stabil dengan sedikit penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Sulawesi Utara
Sulawesi Utara menduduki peringkat ke-14 secara nasional dengan produksi kakao 5.57 Ton. Pertumbuhan produksi kakao di Sulawesi Utara tercatat meningkat 0.91%. Kenaikan ini menunjukkan adanya peningkatan yang cukup baik dalam produksi kakao di wilayah tersebut. Ada selisih nilai sedikit 0.05 Ton dibandingkan tahun sebelumnya.
Bali
Bali menunjukkan kinerja yang baik dengan pertumbuhan produksi kakao mencapai 9.55%, menghasilkan 4.82 Ton. Secara nasional, Bali menduduki peringkat ke-15. Kenaikan pertumbuhan ini adalah yang tertinggi dibandingkan provinsi lain yang disebutkan.
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan berada di peringkat ke-16 secara nasional dengan produksi kakao sebesar 3.86 Ton. Daerah ini mengalami penurunan pertumbuhan yang signifikan turun 18.39%. Penurunan ini merupakan yang terbesar dibandingkan wilayah lain yang disebutkan. Ada selisih nilai signifikan turun 0.87 Ton dibandingkan tahun sebelumnya.