Kementerian Pertanian mencatat data produksi cabe rawit Provinsi Bali hingga akhir tahun 2025 sebesar 27.280,98 ton. Selama 23 tahun periode pencatatan sejak 2003, produksi komoditas ini menunjukkan tren naik secara keseluruhan dengan pertumbuhan tahunan gabungan sebesar 1,88 persen. Pada tahun 2025 terjadi kenaikan produksi sebesar 17,64 persen dibandingkan tahun 2024, dengan penambahan volume sebesar 4.090,27 ton.
(Baca: Statistik PDRB Perubahan Inventori Periode 2013-2025)
Secara rata-rata pertumbuhan, 3 tahun terakhir produksi cabe rawit Bali mencatat pertumbuhan positif sebesar 1,04 persen per tahun. Angka ini berbalik arah dibandingkan rata-rata 5 tahun terakhir yang justru mencatat penurunan sebesar 3,45 persen per tahun. Pencapaian tahun 2025 menempatkan posisi produksi di atas nilai rata-rata seluruh periode pencatatan yang sebesar 23.020,67 ton. Kenaikan produksi tertinggi sepanjang sejarah terjadi pada tahun 2011 dengan pertumbuhan 44,22 persen, sementara penurunan terdalam tercatat pada tahun 2023 sebesar 27,53 persen.
Selama seluruh periode pencatatan, Provinsi Bali secara konsisten menempati peringkat ke-2 produksi cabe rawit di wilayah Nusa Tenggara dan Bali. Untuk peringkat nasional, pada tahun 2025 Bali berada di urutan ke-10 secara nasional. Peringkat ini membaik 2 tingkatan dibandingkan posisi tahun 2023 dan 2024 yang sempat terjatuh ke urutan 12 nasional. Nilai produksi tahun 2025 juga masih berada di bawah rekor tertinggi produksi yang pernah dicapai pada tahun 2016 sebesar 38.358 ton.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan menempati peringkat pertama produksi cabe rawit tingkat nasional pada daftar perbandingan dengan nilai produksi tahun terakhir sebesar 44.240,87 ton, hampir 62 persen lebih tinggi dibandingkan nilai produksi Bali tahun 2025. Wilayah ini mencatat pertumbuhan produksi sebesar 21,35 persen pada periode terakhir, menjadi satu-satunya wilayah dalam daftar perbandingan yang mencatat pertumbuhan di atas 20 persen. Peringkat wilayah ini konsisten berada di urutan teratas grup pulau Sulawesi untuk komoditas cabe rawit.
Jambi
Provinsi Jambi tercatat memiliki produksi cabe rawit tahun terakhir sebesar 42.173,88 ton dan menempati peringkat ke-8 nasional. Wilayah Sumatera ini mengalami sedikit penurunan produksi sebesar 3,22 persen pada periode pencatatan terakhir, dengan pengurangan volume produksi sebesar 1.404,6 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Meskipun terjadi penurunan, nilai produksi Jambi masih 54 persen lebih besar dibandingkan capaian produksi Bali tahun 2025.
(Baca: Nilai Minimal Lolos Jalur Prestasi ke SMA Negeri 3 Sukabumi SPMB 2026)
Sumatera Barat
Sumatera Barat berada di peringkat ke-9 nasional untuk produksi cabe rawit dengan nilai tahun terakhir tercatat sebesar 31.490,73 ton. Wilayah ini mencatat pertumbuhan produksi sebesar 13,62 persen pada periode terakhir, dengan penambahan volume sebesar 3.774,36 ton. Nilai produksi Sumatera Barat masih sekitar 15 persen lebih tinggi dibandingkan capaian Provinsi Bali tahun 2025, dan menempati urutan ke-4 di wilayah pulau Sumatera.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta mencatat produksi cabe rawit tahun terakhir sebesar 25.029,91 ton, berada di peringkat ke-11 nasional. Wilayah pulau Jawa ini mengalami penurunan produksi sebesar 13,94 persen pada periode terakhir, dengan pengurangan volume sebesar 4.054,5 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai produksi Yogyakarta sedikit lebih rendah sekitar 8 persen dibandingkan capaian produksi Bali tahun 2025, dengan peringkat nasional satu tingkat di bawah Bali.
Bengkulu
Bengkulu menempati peringkat ke-12 nasional produksi cabe rawit dengan nilai tahun terakhir tercatat sebesar 24.032,02 ton. Wilayah Sumatera ini mengalami sedikit penurunan produksi sebesar 0,73 persen pada periode terakhir, dengan pengurangan volume yang sangat kecil hanya sebesar 175,89 ton. Nilai produksi Bengkulu sekitar 12 persen lebih rendah dibandingkan capaian produksi Bali tahun 2025, dan menempati urutan ke-5 di wilayah pulau Sumatera.
Sulawesi Tengah
Sulawesi Tengah tercatat memiliki produksi cabe rawit tahun terakhir sebesar 16.623,16 ton, berada di peringkat ke-13 nasional. Wilayah pulau Sulawesi ini mengalami penurunan produksi terdalam dalam daftar perbandingan sebesar 27,59 persen pada periode terakhir, dengan pengurangan volume sebesar 6.333,6 ton dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai produksi Sulawesi Tengah hampir 40 persen lebih rendah dibandingkan capaian produksi Bali tahun 2025.