Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus serta Barang Anyaman Bambu, Rotan dan sejenisnya Provinsi Papua Pegunungan pada akhir tahun 2025 mencapai nilai 82,62 Rp miliar. Selama periode 3 tahun pengamatan sejak 2023, sektor ini mencatat tren naik secara konsisten tanpa pernah mengalami penurunan nilai sama sekali. Pada tahun 2024, sektor ini tumbuh sebesar 1,62 persen dengan penambahan nilai sebesar 1,19 Rp miliar, kemudian pada tahun 2025 terjadi lonjakan pertumbuhan mencapai 10,54 persen dengan penambahan nilai sebesar 7,88 Rp miliar.
(Baca: Provinsi dengan Nilai Investasi PMA Sektor Jasa Lainnya Tertinggi di Indonesia (2025))
Selama 3 tahun pengamatan, rata-rata nilai sektor ini berada di angka 76,97 Rp miliar. Nilai tahun 2025 tercatat berada di atas rata-rata periode tersebut, sekaligus menjadi nilai tertinggi yang pernah tercatat selama periode pengamatan. Sebaliknya nilai terendah tercatat pada tahun 2023 dengan angka 73,55 Rp miliar. Secara kumulatif selama 3 tahun, sektor ini mengalami peningkatan total sebesar 12,33 persen dengan rata-rata pertumbuhan tahunan sebesar 5,99 persen.
Posisi peringkat Provinsi Papua Pegunungan untuk sektor ini di wilayah Pulau Papua tetap konsisten berada di urutan ke-6 selama tiga tahun berturut-turut. Sementara untuk peringkat nasional, terjadi peningkatan satu peringkat dari urutan 34 pada tahun 2023 menjadi urutan 33 pada tahun 2024 dan tetap bertahan di peringkat 33 tersebut hingga akhir tahun 2025. Peningkatan pertumbuhan yang terjadi pada tahun 2025 berhasil mempertahankan posisi peringkat nasional yang telah dicapai satu tahun sebelumnya.
Provinsi Papua Tengah
Provinsi Papua Tengah menempati urutan ke 5 di wilayah Pulau Papua untuk sektor yang sama, dengan nilai PDRB tahun 2025 sebesar 99,46 Rp miliar. Sektor ini di wilayah ini tumbuh sebesar 11,49 persen pada tahun terakhir, atau mengalami penambahan nilai sebesar 10,25 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Peringkat secara nasional Provinsi Papua Tengah berada di urutan 32, satu peringkat lebih baik dibandingkan Papua Pegunungan. Nilai yang dicapai Papua Tengah tercatat lebih tinggi sekitar 20,3 persen dibandingkan nilai yang berhasil dicatatkan oleh Provinsi Papua Pegunungan pada periode tahun yang sama.
Provinsi Nusa Tenggara Timur
Provinsi Nusa Tenggara Timur menempati posisi peringkat 30 secara nasional untuk sektor industri kayu ini, dengan nilai tahun terakhir mencapai 130,01 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,87 persen pada tahun 2025, dengan penambahan nilai sebesar 10,59 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Sebagai wilayah dengan nilai tertinggi pada kelompok perbandingan, nilai PDRB sektor ini di Nusa Tenggara Timur hampir mencapai 1,6 kali lipat dari nilai yang dicapai oleh Provinsi Papua Pegunungan pada tahun yang sama.
Provinsi Lampung
(Baca: 0,00255% Penduduk di Papua Barat Daya Beragama Konghucu)
Provinsi Lampung tercatat menempati peringkat 31 secara nasional, dengan nilai PDRB sektor industri kayu tahun 2025 sebesar 115,98 Rp miliar. Sektor ini di wilayah Sumatera ini tumbuh sebesar 8,94 persen pada tahun terakhir, dengan penambahan nilai sebesar 9,52 Rp miliar. Peringkat Lampung berada satu tingkat di atas Papua Tengah dan dua tingkat di atas Papua Pegunungan. Nilai yang dicapai Lampung tercatat sekitar 40,4 persen lebih tinggi dibandingkan nilai yang berhasil dicatatkan oleh Papua Pegunungan pada periode 2025.
Provinsi Aceh
Provinsi Aceh menempati peringkat 34 secara nasional, satu peringkat di bawah Papua Pegunungan, dengan nilai PDRB sektor industri kayu tahun 2025 sebesar 73,69 Rp miliar. Berbeda dengan seluruh wilayah lain pada kelompok atas, Aceh justru mencatatkan penurunan pertumbuhan sebesar 0,07 persen pada tahun terakhir, dengan pengurangan nilai sebesar 0,05 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai yang dicapai Aceh tercatat sekitar 10,8 persen lebih rendah dibandingkan nilai yang berhasil dicatatkan oleh Papua Pegunungan pada tahun 2025.
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Barat menempati peringkat 35 secara nasional, dengan nilai PDRB sektor industri kayu tahun 2025 sebesar 18,82 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,75 persen pada tahun terakhir, dengan penambahan nilai sebesar 0,68 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai yang dicapai Sulawesi Barat hanya sekitar 22,8 persen dari total nilai yang berhasil dicatatkan oleh Papua Pegunungan pada periode tahun yang sama, menjadikannya salah satu wilayah dengan nilai terendah secara nasional untuk sektor ini.
Provinsi Sulawesi Tenggara
Provinsi Sulawesi Tenggara menempati peringkat 36 secara nasional, menjadi posisi terbawah pada kelompok perbandingan, dengan nilai PDRB sektor industri kayu tahun 2025 sebesar 13,05 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan penurunan pertumbuhan sebesar 0,61 persen pada tahun terakhir, dengan pengurangan nilai sebesar 0,08 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya. Nilai yang dicapai Sulawesi Tenggara hanya sekitar 15,8 persen dari total nilai yang berhasil dicatatkan oleh Papua Pegunungan pada tahun 2025.