Bank Indonesia (BI) mencatat total pinjaman konsumsi di Provinsi Gorontalo mencapai Rp10,89 triliun pada tahun 2025. Angka ini menunjukkan adanya pertumbuhan sebesar 2,17% dibandingkan tahun sebelumnya. Walaupun terjadi pertumbuhan, namun angka ini lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan pinjaman konsumsi dalam tiga tahun terakhir (2022-2024) yang berada di angka 7,36%. Pertumbuhan ini juga lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun terakhir (2021-2025) yang sebesar 9,4%.
Kenaikan tertinggi dalam lima tahun terakhir terjadi pada tahun 2022, dengan pertumbuhan mencapai 28,74%. Sementara kenaikan terendah terjadi pada tahun 2025 dengan pertumbuhan 2,17%. Secara historis, peningkatan signifikan terjadi antara tahun 2021 dan 2022, di mana pinjaman konsumsi melonjak sebesar Rp1,92 triliun. Hal ini berbeda dengan tahun 2025, di mana peningkatan hanya sebesar Rp231,43 miliar, menunjukkan perlambatan pertumbuhan pinjaman konsumsi di Gorontalo.
Dibandingkan provinsi lain di Pulau Sulawesi, Gorontalo menempati peringkat ke-5 dalam total pinjaman konsumsi pada tahun 2025. Secara nasional, Gorontalo berada di peringkat ke-29. Peringkat ini tidak mengalami perubahan signifikan dalam lima tahun terakhir. Meskipun demikian, perlu dicatat bahwa nilai pinjaman konsumsi Gorontalo masih jauh lebih kecil dibandingkan beberapa provinsi lain di Sulawesi yang memiliki perekonomian lebih besar.
Secara keseluruhan, pertumbuhan pinjaman konsumsi di Gorontalo menunjukkan tren yang fluktuatif. Setelah mengalami lonjakan pada tahun 2022, pertumbuhan cenderung melambat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan adanya perubahan perilaku konsumsi atau faktor ekonomi lain yang memengaruhi permintaan pinjaman di wilayah tersebut.
Meskipun terjadi perlambatan, total pinjaman konsumsi di Gorontalo tetap menunjukkan pertumbuhan positif. Hal ini menunjukkan bahwa sektor konsumsi masih menjadi salah satu pendorong ekonomi di provinsi tersebut. Namun, perlu adanya perhatian lebih lanjut terhadap faktor-faktor yang memengaruhi pertumbuhan pinjaman konsumsi agar dapat dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan.
DI Yogyakarta
DI Yogyakarta menempati peringkat ke-6 di Pulau Jawa dengan nilai pinjaman konsumsi mencapai Rp17,65 triliun. Pertumbuhan pinjaman konsumsi di DI Yogyakarta sebesar 2,58%, lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan nasional. Namun, DI Yogyakarta menunjukkan nilai pinjaman yang signifikan dibandingkan dengan provinsi lainnya di Pulau Jawa.
Bengkulu
Provinsi Bengkulu menduduki peringkat ke-9 di Pulau Sumatera dengan nilai pinjaman konsumsi sebesar Rp15,65 triliun. Pertumbuhan pinjaman konsumsi di Bengkulu sebesar 3,29%. Dengan nilai pinjaman ini, Bengkulu masih menjadi salah satu daerah dengan pertumbuhan yang relatif stabil di Pulau Sumatera.
Papua Barat
Papua Barat mencatatkan diri di posisi ke-2 di Pulau Papua dengan total pinjaman konsumsi Rp11,32 triliun. Pertumbuhan pinjaman konsumsi Papua Barat cukup tinggi yaitu 4,23%. Dengan pertumbuhan ini, Papua Barat menunjukkan potensi ekonomi yang menjanjikan di wilayahnya.
Maluku
Provinsi Maluku berada di peringkat pertama di Pulau Maluku dengan nilai pinjaman konsumsi sebesar Rp10,14 triliun. Pertumbuhan pinjaman konsumsi Maluku tercatat 2,64%. Peringkat dan nilai ini menunjukkan bahwa Maluku menjadi pusat konsumsi yang dominan di wilayahnya.
Maluku Utara
Maluku Utara menempati posisi ke-2 di Pulau Maluku dengan total pinjaman konsumsi Rp9,86 triliun. Pertumbuhan pinjaman konsumsi Maluku Utara sebesar 1,23%, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan Maluku. Meski demikian, Maluku Utara tetap berkontribusi signifikan terhadap perekonomian di wilayah Maluku.
Kep. Bangka Belitung
Kepulauan Bangka Belitung berada di peringkat ke-10 di Pulau Sumatera dengan nilai pinjaman konsumsi mencapai Rp8,95 triliun. Pertumbuhan pinjaman konsumsi Kepulauan Bangka Belitung mencapai 2,77%. Meskipun berada di peringkat bawah, pertumbuhan ini menunjukkan adanya peningkatan aktivitas ekonomi di wilayah tersebut.