Presiden Prabowo Subianto telah melakukan perubahan susunan pejabat atau reshuffle Kabinet Merah Putih dalam 122 hari pertama masa kepemimpinannya.
Pada pertengahan Februari 2025 Prabowo mengganti Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendikti Saintek) dari Satryo Soemantri Brodjonegoro menjadi Brian Yuliarto.
Pada bulan yang sama Prabowo juga melantik empat orang kepala lembaga, yaitu Muhammad Yusuf Ateh sebagai Kepala Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), dan Agustina Arumsari sebagai Wakil Kepala BPKP.
Kemudian ada Amalia Adininggar Widyasanti yang dilantik menjadi Kepala Badan Pusat Statistik (BPS), dan Nugroho Sulistyo Budi menjadi Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Litbang Kompas pun menyurvei persepsi publik terkait hal-hal apa saja yang perlu dipertimbangkan presiden dalam mengevaluasi pejabat kabinet.
Hasilnya, mayoritas atau 95,5% responden menilai reshuffle kabinet perlu didasarkan pada pertimbangan kinerja.
Kemudian reshuffle berdasarkan pertimbangan waktu atau lamanya menteri bekerja didukung 81,7% responden, dan pertimbangan latar belakang politik 72,7%.
"Pada akhirnya aspek kinerja dan keahlian menjadi jawaban yang objektif jika pemerintah berniat mendongkrak kerja kabinet agar lebih efektif dan produktif," tulis peneliti Litbang Kompas dalam laporannya, Senin (24/2/2025).
Survei Litbang Kompas ini melibatkan 529 responden dari 38 provinsi yang dipilih secara acak, sesuai proporsi penduduk di setiap provinsi.
Pengambilan data dilakukan pada 10-13 Februari 2025 melalui wawancara telepon. Toleransi kesalahan survei (margin of error) sekitar 4,22% dan tingkat kepercayaan 95%, dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.
(Baca: Kapan Waktu yang Pas untuk Evaluasi Menteri? Ini Pandangan Warga)