Data yang dihimpun Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC), hasil produksi olahan minyak bumi Uni Emirat Arab (UEA) berfluktuasi selama 2020-2024.
Angka hasil olahan minyak atau petroleum ini bisa mencakup produk yang berasal dari fasilitas gas-to-liquids (GTL) dan unit kondensat.
Pada 2020, volume produksinya mencapai 930 ribu barel per hari.
Setahun setelahnya meningkat menjadi 1,04 juta barel per hari, menjadi capaian tertinggi dalam periode tersebut.
Lalu pada 2022 hingga 2024, volume produksi berada di kisaran 910 ribu-970 ribu barel per hari, seperti terlihat pada grafik.
Keluar dari OPEC
Berdasarkan informasi teranyar, UEA tiba-tiba memutuskan keluar dari OPEC pada pekan ini.
Melansir Katadata, keputusan ini diperkirakan akan melemahkan pengaruh kartel dan pemimpinnya, Arab Saudi, di pasar minyak dunia dan bisa berdampak negatif terhadap harga minyak dalam jangka panjang. UEA adalah anggota OPEC yang paling berpengaruh setelah Arab Saudi.
Menurut Jorge León, Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy, UEA adalah salah satu dari sedikit anggota OPEC yang memiliki kapasitas produksi cadangan yang signifikan untuk memengaruhi harga dan menanggapi guncangan pasokan minyak dunia.
Kapasitas cadangan adalah produksi yang menganggur yang dapat diaktifkan dengan cepat untuk mengatasi krisis besar. Arab Saudi dan UEA bersama-sama mengendalikan sebagian besar total kapasitas cadangan dunia yang lebih dari 4 juta barel per hari, menjadikan mereka sangat berpengaruh selama periode kesulitan.
"Oleh karena itu, kepergian UEA menghilangkan salah satu pilar inti yang mendukung kemampuan OPEC untuk mengelola pasar. Akibatnya, OPEC akan menjadi lebih lemah secara struktural," kata León dalam sebuah catatan pada hari Selasa (28/4), seperti dikutip Katadata dari CNBC.
(Baca Katadata: UEA Keluar dari Keanggotaan, OPEC Terancam Sulit Kendalikan Pasar Minyak)