Menurut laporan kinerja Ormat Technologies Inc, perusahaan energi berbasis di Amerika Serikat (AS) yang bertalian erat dengan Israel ini mengantongi pendapatan sebesar US$249,7 juta pada kuartal III 2025. Dengan asumsi kurs Rp16.884 per US$, nilai itu setara Rp4,21 triliun.
Pendapatan tersebut naik 17,9% dari periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/yoy) yang sebesar US$211,8 juta atau Rp3,57 triliun.
Pemasukan Ormat Technologis paling banyak ditopang oleh kelistrikan (US$167,11 juta), disusul produk (US$62,24 juta), dan penyimpanan energi atau energy storage (US$20,37 juta).
Secara akumulasi Januari-September 2025, pendapatan yang terkumpul US$713,5 juta atau Rp12,04 triliun.
Dari pendapatan tersebut, laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk perusahaan sebesar US$24,1 juta atau Rp406,90 miliar.
Laba bersih itu naik sekitar 9% (yoy) dari kuartal III 2024 yang sebesar US$22,1 juta atau Rp373,13 miliar.
Adapun perhitungan sembilan bulan penuh 2025, laba yang dikeruk mencapai US$92,5 juta atau Rp1,56 triliun.
Doron Blachar, CEO Ormat Technologies, menerangkan bahwa dalam beberapa kuartal terakhir, segmen penyimpanan energi dan produk memang terus tumbuh.
"Pendapatan kuartal ini untuk kedua segmen tersebut masing-masing naik sebesar 108,1% dan 66,6%, sembari menunjukkan peningkatan margin yang signifikan," katanya dalam keterangan tertulis di laman perusahaan.
Sementara hasil segmen listrik selama kuartal ini mendapat keuntungan dari ekspansi portofolio, khususnya akuisisi pembangkit listrik Blue Mountain baru-baru ini, serta peningkatan kinerja di fasilitas Dixie Valley, yang keduanya berada di Nevada, AS.
"Kontribusi ini membantu menutupi dampak negatif gabungan sebesar US$5,5 juta akibat kegagalan jaringan listrik buntut badai di Imperial Valley, California, September lalu," katanya.
Jaringan bisnis Ormat Technologies tak hanya tersebar di AS. Dalam laporannya, perusahaan juga memiliki peran di Indonesia.
Perusahaan itu menandatangani dua Perjanjian Eksplorasi Panas Bumi dan Konversi Energi (GEECA)—jenis baru dari Perjanjian Jual Beli Listrik (PPA)—dengan PLN.
"Masing-masing perjanjian mencakup kapasitas panas bumi hingga 20 MW di Indonesia," demikian pernyataan perusahaan.
Berdasarkan perjanjian tersebut, Ormat akan melakukan pengeboran eksplorasi, pendanaan, desain, konstruksi, instalasi, dan pengoperasian pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) dengan skema BOT (build, operate, transfer/bangun, operasikan, serahkan) selama 23 tahun.
"PLN akan mengganti biaya pengeboran yang berhasil dan memiliki opsi untuk mengakuisisi hingga 30% kepemilikan saham dalam proyek tersebut," tulis Ormat Technologies.
(Baca: Sebaran Pembangkit Geotermal Milik Ormat Technologies di Indonesia)