Katadata Insight Center (KIC) merilis laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) dalam acara IDE Katadata Future Forum 2026 di Ballroom Djakarta Theater, Jakarta, Rabu (15/4/2026).
Laporan KIMCI ini mengungkap tentang kondisi, perilaku, dan persepsi kelas menengah, yang dapat menjadi dasar dalam merumuskan strategi dan kebijakan untuk memperkuat daya tahan, mendorong pertumbuhan, serta mendukung pembangunan ekonomi dan sosial di Indonesia.
Salah satu temuan riset dalam laporan tersebut berkaitan dengan kepemilikan produk keuangan di kalangan kelas menengah. Tabungan menjadi instrumen yang paling banyak dimiliki, dengan proporsi 67,8%.
Selain itu, responden juga banyak yang memiliki produk keuangan bersifat likuid, seperti saham, reksa dana, aset kripto, dan lainnya.
"Di tengah tekanan inflasi dan ketidakpastian ekonomi, investasi dipandang sebagai strategi yang semakin relevan untuk mempertahankan daya beli, bukan sekadar meningkatkan kekayaan," tulis KIC dalam laporannya.
Berikut daftar produk keuangan yang dimiliki kelas menengah di Indonesia, menurut survei KIC:
- Tabungan: 67,8%
- Dompet digital: 43%
- Kartu Kredit: 19,8%
- Saham: 19,2%
- Asuransi: 17,6%
- Reksa dana: 15,6%
- Produk tabungan pensiun: 15,2%
- Produk deposito: 13,9%
- Kredit pemilikan rumah (KPR): 11,3%
- Aset kripto: 10,3%
- Kredit mobil/kredit motor: 9,2%
- Pinjaman bank dengan jaminan: 7,8%
- Pinjaman bank tanpa jaminan: 7,4%
- Obligasi: 6,1%
- Kredit Mikro: 1,9%
- Giro: 1,8%
- Tidak ada satupun di atas: 7%.
KIC melakukan survei ini pada kuartal IV 2025-kuartal I 2026 terhadap 1.000 responden kelas menengah.
Responden berusia antara 18-60 tahun dengan kisaran pengeluaran Rp2 juta sampai Rp10 juta per kapita per bulan, mengacu pada definisi kelas menengah dari Badan Pusat Statistik (BPS).
Laporan lengkap Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) dari KIC dapat diunduh melalui tautan ini.
(Baca: Mayoritas Kelas Menengah RI Menabung dan Investasi untuk Kebutuhan Darurat)