3.506 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Rabu, 30 Juli 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 3.506 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 1197 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (30/7/2025) pukul 11.12 WIB. Dari 3.506 titik panas terdeteksi, 202 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 3209 titik skala sedang, dan 95 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Banjir dan Cuaca Ekstrem, Bencana Alam Terbanyak di Indonesia sampai Awal Agustus 2023)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 1810 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 338 titik. Aceh berada di posisi ketiga sebanyak 221 titik panas.
Sebanyak 193 titik panas terdeteksi di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah menyusul dengan 170 titik panas, serta Riau dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 130 dan 87 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Ada 2 Ribu Bencana Alam di Indonesia pada 2024, Banjir Mendominasi)