KLHK Temukan 391 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Riau (Rabu, 18 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 391 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 50 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Rabu (18/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 391 titik panas terdeteksi, 15 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 349 titik skala sedang, dan 27 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Ada Ratusan Bencana Alam sampai Awal April 2024, Banjir Terbanyak)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 133 titik. Kepulauan Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 39 titik. Kalimantan Timur berada di posisi ketiga sebanyak 23 titik panas.
Sebanyak 21 titik panas terdeteksi di Kalimantan Selatan, Kepulauan Bangka Belitung menyusul dengan 20 titik panas, serta Kalimantan Barat dan Banten masing-masing memiliki 18 dan 17 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Data Jumlah Rumah Terendam Akibat Bencana Alam di RI pada 2014-2014)