Kementerian LHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 276 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 6 Juni 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 276 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 100 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (6/6/2025) pukul 11.42 WIB. Dari 276 titik panas terdeteksi, 7 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 262 titik skala sedang, dan 7 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Negara dengan Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia, Indonesia Pertama)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 36 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 29 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 28 titik panas.
Sebanyak 24 titik panas terdeteksi di Kepulauan Bangka Belitung, Sulawesi Tenggara menyusul dengan 23 titik panas, serta Sumatera Selatan dan Lampung masing-masing memiliki 21 dan 19 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Indonesia Punya Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia)