Kementerian LHK Deteksi 260 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Riau (Jumat, 6 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 260 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 87 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (6/2/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 260 titik panas terdeteksi, 6 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 250 titik skala sedang, dan 4 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Negara dengan Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia, Indonesia Pertama)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 116 titik. Sulawesi Tenggara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 36 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 30 titik panas.
Sebanyak 12 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan menyusul dengan 12 titik panas, serta Sumatera Utara dan Kepulauan Riau masing-masing memiliki 10 dan 7 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Tren Letusan Gunung Berapi dalam Beberapa Tahun Terakhir)