Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan semester 2025 untuk Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Persentase penduduk miskin tahun ini tercatat 6,40 persen, turun sebanyak 0,47 persen dari tahun sebelumnya dengan pertumbuhan minus 6,84 persen. Jumlah penduduk miskin saat ini sebesar 3.530 jiwa, menurun 200 jiwa dibanding tahun 2024.
Selama periode 2004 sampai 2025, persentase kemiskinan wilayah ini pernah mencapai nilai tertinggi sebesar 26,97 persen pada tahun 2006. Nilai terendah persentase kemiskinan tercatat pada tahun 2025 ini. Peringkat kemiskinan se-Indonesia terus bergeser dari peringkat 132 tahun 2004 hingga peringkat 356 pada tahun 2025.
(Baca: BPS: Inflasi Yoy Kota Kupang pada Agustus 2026 Sebesar 2,29%)
Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir berada di angka 6,94 persen, sedangkan rata-rata 5 tahun terakhir sebesar 7,74 persen. Nilai tahun 2025 lebih rendah dari kedua rata-rata tersebut. Pertumbuhan penurunan kemiskinan terbesar terjadi pada tahun 2008 sebesar minus 33,01 persen, sedangkan kenaikan terbesar terjadi tahun 2005 sebesar 11,32 persen.
Seluruh 6 kabupaten tetangga dengan tingkat kemiskinan berdekatan di Sumatera Utara mencatat penurunan persentase kemiskinan pada tahun 2025. Penurunan terbesar terjadi di Kota Pematang Siantar sebesar minus 13,33 persen, sedangkan penurunan terkecil terjadi di Kabupaten Pakpak Bharat.
Kabupaten Karo
Berada di peringkat 343 se-Indonesia untuk persentase kemiskinan, wilayah ini mencatat angka 6,66 persen dengan penurunan sebesar 9,63 persen tahun lalu. Jumlah penduduk miskin tercatat 30.670 jiwa, pendapatan per kapita masyarakat mencapai 70,51 juta rupiah per tahun. Garis kemiskinan ditetapkan sebesar 678,89 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pertumbuhan garis kemiskinan sedikit naik 3,36 persen.
Kabupaten Labuhan Batu Selatan
Peringkat 336 secara nasional untuk angka kemiskinan, dengan persentase tercatat 6,80 persen dan penurunan tahunan sebesar 12,03 persen. Pendapatan per kapita wilayah ini menjadi yang tertinggi di kelompoknya yaitu 134,91 juta rupiah per tahun. Garis kemiskinan sebesar 550,14 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 26.120 jiwa.
(Baca: Statistik Persentase Penduduk Miskin di Perkotaan Periode 2013-2026)
Kota Pematang Siantar
Menduduki peringkat 365 se-Indonesia, persentase kemiskinan tercatat 6,24 persen dengan penurunan tahunan terbesar di kelompok ini yaitu 13,33 persen. Jumlah penduduk miskin mencapai 16.530 jiwa, pendapatan per kapita sebesar 66,09 juta rupiah per tahun. Garis kemiskinan wilayah ini sebesar 722,85 ribu rupiah per kapita per bulan, hanya sedikit naik 1,81 persen tahun lalu.
Kabupaten Serdang Bedagai
Pada peringkat 368 secara nasional, angka kemiskinan tercatat 6,18 persen dengan penurunan sebesar 11,33 persen pada tahun 2025. Jumlah penduduk miskin mencapai 38.140 jiwa, menjadi jumlah tertinggi kedua di kelompok ini. Pendapatan per kapita masyarakat sebesar 66,02 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan 535,42 ribu rupiah per kapita per bulan.
Kabupaten Simalungun
Menduduki peringkat 331 se-Indonesia, persentase kemiskinan tercatat 6,91 persen dengan penurunan tahunan sebesar 10,49 persen. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk miskin tertinggi di kelompok yaitu 61.120 jiwa. Pendapatan per kapita sebesar 60,71 juta rupiah per tahun, dengan garis kemiskinan terendah yaitu 513,79 ribu rupiah per kapita per bulan.
Kabupaten Tapanuli Selatan
Berada di peringkat 370 se-Indonesia untuk angka kemiskinan, wilayah ini mencatat persentase 6,16 persen dengan penurunan sebesar 10,98 persen tahun lalu. Jumlah penduduk miskin tercatat 17.770 jiwa, pendapatan per kapita mencapai 73,79 juta rupiah per tahun. Garis kemiskinan ditetapkan sebesar 527,23 ribu rupiah per kapita per bulan, sedikit naik 2,88 persen.