Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan semester 2025 untuk Kabupaten Pakpak Bharat, Sumatera Utara. Persentase penduduk miskin tercatat 6,40 persen, turun 0,47 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka ini menurun sebesar 6,84 persen secara tahunan, dengan jumlah penduduk miskin total 3.530 jiwa. Jumlah penduduk wilayah ini tercatat 55.127 jiwa pada periode yang sama.
(Baca: Harga Penyediaan Makanan dan Minuman / Restoran di Kota Bukit Tinggi Turun 0,34%)
Sepanjang periode 2004 hingga 2025, persentase kemiskinan wilayah ini pernah mencapai titik tertinggi 26,97 persen pada tahun 2006, dan tercatat terendah pada tahun 2025 ini. Sejak 2022, angka kemiskinan terus turun setiap tahun, dengan penurunan paling dalam terjadi pada tahun 2023 sebesar 12,93 persen. Rank kemiskinan se-Indonesia terus bergeser dari peringkat 132 tahun 2004 menjadi peringkat 356 tahun 2025.
Nilai persentase kemiskinan 2025 tercatat lebih rendah 0,87 poin dari rata-rata 3 tahun terakhir, dan lebih rendah 1,94 poin dari rata-rata 5 tahun terakhir. Kabupaten ini menduduki peringkat 109 tingkat Sumatera dan peringkat 356 tingkat nasional untuk indikator persentase kemiskinan.
Kabupaten Karo
Berada di peringkat 343 nasional untuk persentase kemiskinan, mencatatkan angka 6,66 persen dengan penurunan tahunan sebesar 9,63 persen. Jumlah penduduk miskin mencapai 30.670 jiwa dari total 460.328 jiwa penduduk. Garis kemiskinan ditetapkan sebesar 678,89 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat 70,51 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan penduduk wilayah ini tercatat positif 8,95 persen tahunan.
Kabupaten Labuhan Batu Selatan
Peringkat 336 nasional dengan persentase kemiskinan 6,80 persen, mengalami penurunan tahunan paling dalam di kelompok ini yaitu 12,03 persen. Jumlah penduduk miskin tercatat 26.120 jiwa dari total 384.153 jiwa penduduk. Garis kemiskinan wilayah ini sebesar 550,14 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 134,91 juta rupiah per tahun, tertinggi di kelompok.
(Baca: Pengeluaran per Kapita Maluku 2025: Lonjakan Jadi Rp1,4 Juta per Bulan)
Kota Pematang Siantar
Menduduki peringkat 365 nasional, mencatatkan persentase kemiskinan 6,24 persen dengan penurunan tahunan 13,33 persen. Jumlah penduduk miskin berjumlah 16.530 jiwa dari total 264.841 jiwa penduduk yang tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,34 persen. Garis kemiskinan wilayah ini merupakan yang tertinggi di kelompok yaitu 722,85 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita 66,09 juta rupiah per tahun.
Kabupaten Serdang Bedagai
Menduduki peringkat 368 nasional dengan persentase kemiskinan 6,18 persen, mencatatkan penurunan tahunan sebesar 11,33 persen. Jumlah penduduk miskin berjumlah 38.140 jiwa dari total 617.162 jiwa penduduk. Garis kemiskinan wilayah ini sebesar 535,42 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat 66,02 juta rupiah per tahun. Wilayah ini mencatatkan penurunan jumlah penduduk sebesar 11,43 persen tahunan.
Kabupaten Simalungun
Berada di peringkat 331 nasional untuk persentase kemiskinan, mencatatkan angka 6,91 persen dengan penurunan tahunan 10,49 persen. Wilayah ini memiliki jumlah penduduk paling besar di kelompok yaitu 883.981 jiwa dengan jumlah penduduk miskin 61.120 jiwa. Garis kemiskinan merupakan terendah di kelompok yaitu 513,79 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita 60,71 juta rupiah per tahun.
Kabupaten Tapanuli Selatan
Menduduki peringkat 370 nasional, mencatatkan persentase kemiskinan terendah di kelompok yaitu 6,16 persen dengan penurunan tahunan 10,98 persen. Jumlah penduduk miskin berjumlah 17.770 jiwa dari total 288.390 jiwa penduduk. Garis kemiskinan wilayah ini sebesar 527,23 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat 73,79 juta rupiah per tahun. Jumlah penduduk wilayah ini turun sebesar 11,15 persen secara tahunan.