11.658 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 16 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 11.658 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 8054 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (16/10/2026) pukul 11.15 WIB. Dari 11.658 titik panas terdeteksi, 668 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 10361 titik skala sedang, dan 629 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Banjir Mendominasi Kejadian Bencana di Indonesia Kuartal I 2026)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Sumatera Selatan sebanyak 2702 titik. Kalimantan Tengah menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 2456 titik. Kalimantan Timur berada di posisi ketiga sebanyak 791 titik panas.
Sebanyak 767 titik panas terdeteksi di Jawa Timur, Papua Selatan menyusul dengan 596 titik panas, serta Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 561 dan 490 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Daftar Provinsi yang Dilanda Banjir dan Longsor Awal 2026)
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.928 | +0.16 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |