Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 387 Dalam 24 Jam Terakhir (Selasa, 3 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 387 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 87 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (3/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 387 titik panas terdeteksi, 9 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 363 titik skala sedang, dan 15 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.6 M Guncang 128 Km Utara Dari Lae, Papua)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 178 titik. Sumatera Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 40 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 28 titik panas.
Sebanyak 21 titik panas terdeteksi di Sulawesi Barat, Sumatera Selatan menyusul dengan 20 titik panas, serta Jambi dan Sulawesi Tenggara masing-masing memiliki 17 dan 13 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 4.5 M Guncang 14 Km Utara Dari San Carlos,)