229 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 15 Januari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 229 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 28 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (15/1/2026) pukul 11.02 WIB. Dari 229 titik panas terdeteksi, 1 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 223 titik skala sedang, dan 5 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indikasi Luas Karhutla di Kalimantan Timur sampai Juni 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 39 titik. Maluku Utara menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 27 titik. Aceh berada di posisi ketiga sebanyak 24 titik panas.
Sebanyak 22 titik panas terdeteksi di Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah menyusul dengan 20 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 19 dan 14 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Hampir 5 Ribu Kejadian Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2023, Karhutla Mendominasi)