Kementerian LHK Temukan 819 Titik Panas di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Kamis, 7 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 819 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 152 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (7/8/2025) pukul 11.12 WIB. Dari 819 titik panas terdeteksi, 29 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 758 titik skala sedang, dan 32 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kualitas Udara Kep. Riau Pagi Hari (5/8) Terburuk di Indonesia)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 198 titik. Nusa Tenggara Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 179 titik. Jawa Timur berada di posisi ketiga sebanyak 58 titik panas.
Sebanyak 40 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Barat, Jawa Tengah menyusul dengan 39 titik panas, serta Sumatera Selatan dan Sumatera Barat masing-masing memiliki 38 dan 33 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Lampung Rabu Pagi (30/7) Terburuk di Indonesia)