Kementerian LHK Temukan 165 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Maluku (Senin, 27 Oktober 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 165 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 271 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (27/10/2025) pukul 11.53 WIB. Dari 165 titik panas terdeteksi, 2 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 159 titik skala sedang, dan 4 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kalbar Punya Kualitas Udara Terburuk di Indonesia Pagi Ini (Jumat, 18 Agustus 2023))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Maluku sebanyak 27 titik. Nusa Tenggara Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 22 titik. Maluku Utara berada di posisi ketiga sebanyak 19 titik panas.
Sebanyak 18 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur menyusul dengan 15 titik panas, serta Sumatera Utara dan Sumatera Selatan masing-masing memiliki 13 dan 11 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Kualitas Udara Jakarta Pagi Ini Terburuk Kedua di Dunia (Jumat, 17 Juni 2022))