KLHK Deteksi 1.575 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Barat (Jumat, 8 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 1.575 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 756 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (8/8/2025) pukul 11.21 WIB. Dari 1.575 titik panas terdeteksi, 25 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 1520 titik skala sedang, dan 30 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Kualitas Udara Kabupaten Pelalawan Paling Bersih di Indonesia Pagi Ini (5/8))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 1062 titik. Nusa Tenggara Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 75 titik. Jawa Timur berada di posisi ketiga sebanyak 62 titik panas.
Sebanyak 41 titik panas terdeteksi di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan menyusul dengan 40 titik panas, serta Kalimantan Timur dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 39 dan 37 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.