1.034 Titik Panas Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Selasa, 7 Juli 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 1.034 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 67 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Selasa (7/7/2026) pukul 11.53 WIB. Dari 1.034 titik panas terdeteksi, 19 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 976 titik skala sedang, dan 39 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: 5 Provinsi dengan Titik Panas Karhutla di Ekosistem Gambut Terbanyak sampai Agustus 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 114 titik. Aceh menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 111 titik. Nusa Tenggara Timur berada di posisi ketiga sebanyak 111 titik panas.
Sebanyak 89 titik panas terdeteksi di Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan menyusul dengan 71 titik panas, serta Jawa Timur dan Nusa Tenggara Barat masing-masing memiliki 66 dan 62 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Hampir 5 Ribu Kejadian Bencana Alam di Indonesia Sepanjang 2023, Karhutla Mendominasi)
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Jun) | 3,34% | +0.26 | |
| Inflasi mom (Jun) | 0,44% | +0.16 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Des) | 7,50% | -0.75 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 17.988 | -0.36 | |
| PDB ADHK (Q1) | 3.447,70 | -0.77 | |
| Ekspor Migas (Mei) | 758,10 | -34.38 | |
| Neraca perdagangan (Mei) | -1,61 | -1,907.18 | |
| Impor Migas (Mei) | 4,51 | -1.82 | |
| Ekspor (Mei) | 23,20 | -8.30 | |
| Impor (Mei) | 24,81 | -1.59 | |
| Kunjungan Wisman (Mei) | 1,38 | +10.69 | |
| NTP (Jun) | 114,65 | +0.76 |