Menurut laporan ISEAS-Yusof Ishak Institute, lebih banyak warga Asia Tenggara mendukung ASEAN untuk mengambil sikap bersatu dalam mengedepankan solusi dua negara atau two-state solution dalam konflik Israel dan Hamas, kelompok militan Palestina.
Dukungan terhadap sikap tersebut sangat kuat dari warga Timor-Leste (44,8%), Thailand (40,4%), dan Vietnam (37,5%).
“Ini menggarisbawahi adanya harapan yang jelas di negara-negara tersebut agar ASEAN berbicara dengan satu suara diplomatik,” jelas ISEAS - Yusof Ishak Institute dalam The State of Southeast Asia 2026 Survey Report.
Adapun pendekatan kedua yang paling banyak didorong adalah mendukung kelanjutan gencatan senjata dan memastikan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan.
Menurut periset, perspektif tersebut paling menonjol di Malaysia (40,7%), Singapura (36,6%), Kamboja (34,5%), dan Filipina (31,8%).
“Mengeluarkan pernyataan yang menjunjung tinggi hukum internasional dan mengutuk pelanggaran oleh semua pihak berada di peringkat berikutnya dengan angka 26,3%, dan pendekatan yang disukai oleh Indonesia (33,9%),” kata ISEAS-Yusof Ishak Institute.
Berikut pandangan responden tentang bagaimana seharusnya ASEAN merespons konflik Israel-Hamas pada 2026:
- ASEAN harus mengambil sikap bersatu dalam mendukung solusi dua negara melalui perundingan sebagai dasar bagi perdamaian jangka panjang: 32,3%
- ASEAN harus mendukung kelanjutan gencatan senjata dan memastikan bantuan kemanusiaan yang berkelanjutan: 28,1%
- ASEAN harus mengeluarkan pernyataan yang menjunjung tinggi hukum internasional dan mengutuk pelanggaran oleh semua pihak: 26,3%
- ASEAN harus mengizinkan setiap negara anggotanya untuk memilih pendekatan mereka sendiri terhadap masalah ini: 6,9%
- ASEAN harus menghindari keterlibatan dalam konflik jauh yang tidak berdampak langsung terhadap keamanan regional: 6,4%
ISEAS-Yusof Ishak Institute menyurvei 2.008 orang berusia minimal 18 tahun secara daring pada 5 Januari-20 Februari 2026 dengan metode mixed purposive sampling. Responden tersebar di 11 negara Asia Tenggara.
Responden berasal dari lima kategori afiliasi: (a) akademisi, anggota lembaga think tank, atau peneliti; (b) perwakilan sektor swasta; (c) perwakilan masyarakat sipil, LSM, atau media; (d) pejabat pemerintah; dan (e) staf organisasi regional atau internasional.
(Baca: Perbandingan Lalu Lintas Kapal di Selat Hormuz Sebelum dan Sesudah Perang)