Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 668 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 18 September 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 668 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 186 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (18/9/2025) pukul 11.08 WIB. Dari 668 titik panas terdeteksi, 17 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 563 titik skala sedang, dan 88 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Ini Provinsi yang Banyak Dilanda Banjir Awal 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 283 titik. Sulawesi Selatan menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 90 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 74 titik panas.
Sebanyak 60 titik panas terdeteksi di Maluku, Jawa Timur menyusul dengan 48 titik panas, serta Aceh dan Nusa Tenggara Barat masing-masing memiliki 37 dan 22 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Banjir Masih Jadi Bencana Terbanyak di Indonesia hingga Maret 2025 )