4.746 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 30 Oktober 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 4.746 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 136 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (30/10/2026) pukul 11.51 WIB. Dari 4.746 titik panas terdeteksi, 155 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 4451 titik skala sedang, dan 140 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Titik Banjir Jakarta Bertambah (23 Januari 2026 Pukul 12.00 WIB))
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Tengah sebanyak 1003 titik. Kalimantan Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 543 titik. Sulawesi Tenggara berada di posisi ketiga sebanyak 529 titik panas.
Sebanyak 478 titik panas terdeteksi di Papua Selatan, Sulawesi Tengah menyusul dengan 476 titik panas, serta Sulawesi Selatan dan Kalimantan Selatan masing-masing memiliki 306 dan 232 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Jumlah Rumah Rusak akibat Banjir dan Longsor Sumatra (17 Desember 2025))
Data Terkait
Data Pasar
| Nama | Nilai | % | |
|---|---|---|---|
| Inflasi yoy (Sep) | 3,28% | +0.09 | |
| Inflasi mom (Agu) | 0,21% | +0.35 | |
| Pertumbuhan ekonomi | 5,11% | +0.08 | |
| Pertumbuhan ekonomi (yoy) (Q1) | 5,61% | +4.08 | |
| Persentase kemiskinan (Mar) | 8,07% | -0.18 | |
| Gini rasio (Sem2) | 0,38 | 0.00 | |
| Nilai Tukar USDIDR | 18.151 | +0.12 | |
| PDB ADHK (Q2) | 3.576,20 | +3.73 | |
| Ekspor Migas (Agu) | 992,20 | +25.98 | |
| Neraca perdagangan (Agu) | 3,55 | +2,814.03 | |
| Impor Migas (Agu) | 3,53 | -6.37 | |
| Ekspor (Agu) | 26,61 | +1.51 | |
| Impor (Agu) | 23,06 | -11.63 | |
| Kunjungan Wisman (Agu) | 1,60 | +4.89 | |
| NTP (Jul) | 116,16 | +1.32 |