KLHK Temukan 235 Hotspot di Indonesia, Terbanyak di Kalimantan Timur (Kamis, 14 Mei 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 235 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 43 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (14/5/2026) pukul 11.21 WIB. Dari 235 titik panas terdeteksi, 7 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 225 titik skala sedang, dan 3 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 5.5 M Guncang 262 Km Timur Dari Levuka,)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Timur sebanyak 25 titik. Nusa Tenggara Timur menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 22 titik. Jawa Timur berada di posisi ketiga sebanyak 21 titik panas.
Sebanyak 19 titik panas terdeteksi di Jawa Tengah, Sumatera Selatan menyusul dengan 17 titik panas, serta Maluku Utara dan Sulawesi Selatan masing-masing memiliki 16 dan 14 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Gempa Bumi Berkekuatan 5.3 M Guncang 17 Km Barat Dari Pasuquin,)