383 Hotspot Terdeteksi di Indonesia Dalam 24 Jam Terakhir (Minggu, 1 Februari 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 383 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini berkurang 177 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Minggu (1/2/2026) pukul 11.14 WIB. Dari 383 titik panas terdeteksi, 8 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 361 titik skala sedang, dan 14 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Tren Letusan Gunung Berapi dalam Beberapa Tahun Terakhir)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 128 titik. Kepulauan Riau menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 47 titik. Riau berada di posisi ketiga sebanyak 47 titik panas.
Sebanyak 18 titik panas terdeteksi di Aceh, Jawa Tengah menyusul dengan 17 titik panas, serta Sulawesi Selatan dan Sumatera Utara masing-masing memiliki 17 dan 17 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Indonesia Punya Gunung Berapi Aktif Terbanyak di Dunia)