Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data kemiskinan semesteran Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan tahun 2025. Persentase penduduk miskin tahun ini tercatat 10,61 persen, turun sedikit dari tahun sebelumnya sebesar 0,18 persen. Jumlah penduduk miskin mencapai 14.770 jiwa, turun 170 jiwa dari periode sebelumnya. Total penduduk wilayah ini tercatat 139.210 jiwa, turun 3.886 jiwa dari tahun lalu.
(Baca: Inflasi Kabupaten Wajo Juli 2026: Kelompok Perawatan Pribadi Dan Jasa Lainnya Tercatat Tertinggi)
Data historis menunjukkan persentase kemiskinan wilayah ini tertinggi tercatat pada tahun 2005 sebesar 22,71 persen, dan terendah pada tahun 2025. Selama periode 2004 hingga 2025, angka kemiskinan sempat naik pada tahun 2013 sebesar 10,57 persen, dan turun paling dalam pada tahun 2024 sebesar 12,06 persen. Ranking kemiskinan nasional wilayah ini saat ini berada di urutan 189 dari total 514 kabupaten/kota di Indonesia.
Rata-rata persentase kemiskinan 3 tahun terakhir wilayah ini adalah 11,22 persen, sementara rata-rata 5 tahun terakhir tercatat 11,67 persen. Artinya angka kemiskinan tahun 2025 berada di bawah rata-rata kedua periode tersebut. Posisi ranking nasional wilayah ini bergeser 20 peringkat lebih baik dibandingkan tahun 2024 yang berada di urutan 209.
Kabupaten Bone
Berada pada ranking 246 nasional untuk persentase kemiskinan, wilayah ini mencatatkan angka 9,13 persen dengan penurunan sebesar 4,70 persen tahun lalu. Jumlah penduduk miskin mencapai 69.730 jiwa dari total 763.389 jiwa penduduk. Garis kemiskinan ditetapkan sebesar 452,56 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 64,76 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan garis kemiskinan tahun lalu mencapai 6,80 persen.
Kabupaten Enrekang
Ranking 185 nasional untuk tingkat kemiskinan, wilayah ini mencatatkan angka 10,73 persen dengan penurunan 4,62 persen pada periode terakhir. Terdapat 23.090 jiwa penduduk miskin dari total 215.250 jiwa penduduk yang tercatat. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 451,58 ribu rupiah per kapita per bulan, sedangkan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 46,93 juta rupiah per tahun. Jumlah penduduk wilayah ini mengalami penurunan sebesar 8,20 persen tahun lalu.
(Baca: Statistik Angka Partisipasi Kasar Periode 2013-2025)
Kabupaten Luwu Utara
Menduduki peringkat 183 nasional persentase kemiskinan, wilayah ini memiliki angka kemiskinan 10,74 persen dengan penurunan 4,45 persen tahun lalu. Terdapat 35.030 jiwa penduduk miskin dari total 326.276 jiwa penduduk. Garis kemiskinan ditetapkan sebesar 441,41 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita mencapai 64,54 juta rupiah per tahun. Pertumbuhan pendapatan per kapita wilayah ini mencapai 10,69 persen, tertinggi dibandingkan seluruh kabupaten pembanding.
Kabupaten Luwu
Peringkat 175 nasional tingkat kemiskinan, wilayah ini mencatatkan angka 10,97 persen dengan penurunan 6,24 persen pada periode terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 41.760 jiwa dari total 380.595 jiwa penduduk. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 447,60 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 63,45 juta rupiah per tahun. Jumlah penduduk wilayah ini hanya mengalami penurunan sebesar 1,24 persen, paling kecil dibandingkan wilayah pembanding lain.
Kabupaten Tana Toraja
Berada pada peringkat 191 nasional persentase kemiskinan, wilayah ini mencatatkan angka 10,54 persen dengan penurunan 2,32 persen tahun lalu. Terdapat 25.820 jiwa penduduk miskin dari total 245.025 jiwa penduduk. Garis kemiskinan ditetapkan sebesar 435,95 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 36,98 juta rupiah per tahun, terendah dibandingkan seluruh kabupaten dalam daftar pembanding.
Kabupaten Toraja Utara
Menduduki peringkat 220 nasional tingkat kemiskinan, wilayah ini mencatatkan angka 10,05 persen dengan penurunan 6,34 persen pada periode terakhir. Jumlah penduduk miskin tercatat 24.480 jiwa dari total 243.528 jiwa penduduk. Garis kemiskinan di wilayah ini sebesar 435,30 ribu rupiah per kapita per bulan, dengan pendapatan per kapita masyarakat mencapai 50,62 juta rupiah per tahun. Jumlah penduduk wilayah ini mengalami penurunan 8,62 persen, terbesar dibandingkan seluruh kabupaten pembanding.