Kementerian LHK: Jumlah Titik Panas di Indonesia Capai 699 Dalam 24 Jam Terakhir (Senin, 23 Maret 2026)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 699 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 298 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Senin (23/3/2026) pukul 11.47 WIB. Dari 699 titik panas terdeteksi, 64 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 602 titik skala sedang, dan 33 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Sempat Melonjak, Jumlah Kejadian Bencana Alam di RI Turun pada 2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Riau sebanyak 318 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 155 titik. Kepulauan Riau berada di posisi ketiga sebanyak 70 titik panas.
Sebanyak 38 titik panas terdeteksi di Maluku Utara, Aceh menyusul dengan 25 titik panas, serta Jambi dan Sulawesi Tengah masing-masing memiliki 17 dan 15 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Bencana Alam Merusak 220 Ribu Bangunan di Indonesia pada 2025)