KLHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 2.924 Dalam 24 Jam Terakhir (Kamis, 28 Agustus 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 2.924 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 1313 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Kamis (28/8/2025) pukul 11.30 WIB. Dari 2.924 titik panas terdeteksi, 121 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 2714 titik skala sedang, dan 89 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Jumlah Korban Bencana Gempa Bumi di Indonesia pada 2020-2024)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Kalimantan Barat sebanyak 1790 titik. Kepulauan Bangka Belitung menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 261 titik. Sumatera Selatan berada di posisi ketiga sebanyak 173 titik panas.
Sebanyak 161 titik panas terdeteksi di Nusa Tenggara Timur, Sumatera Utara menyusul dengan 92 titik panas, serta Sumatera Barat dan Nusa Tenggara Barat masing-masing memiliki 63 dan 50 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Lima Gempa Bumi Terakhir yang Tercatat di BMKG (Sabtu, 19 Juli 2025 13:53:43 WIB))