Kementerian LHK: Jumlah Hotspot di Indonesia Capai 720 Dalam 24 Jam Terakhir (Jumat, 12 September 2025)
- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan sistem pemantauan kebakaran hutan dan lahan SiPongi Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), pemantauan 24 jam terakhir menunjukkan ada 720 titik panas (hotspot) terdeteksi di Indonesia. Jumlah titik panas ini bertambah 404 titik dibandingkan dengan periode sebelumnya.
Data tersebut merupakan hasil pencitraan satelit Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA yang diakses pada Jumat (12/9/2025) pukul 11.41 WIB. Dari 720 titik panas terdeteksi, 9 titik dengan tingkat kepercayaan hotspot tinggi, 669 titik skala sedang, dan 42 titik skala rendah.
Tingkat kepercayaan hotspot terbagi menjadi 3 skala. Skala rendah memiliki rentang 0 - 29, skala sedang 30 - 79, dan skala tinggi 80 - 100. Semakin tinggi tingkat kepercayaan hotspot, semakin tinggi juga kemungkinan wilayah tertentu terjadi kebakaran hutan dan lahan.
(Baca: Indikasi Luas Karhutla di Kalimantan Timur sampai Juni 2025)
Titik panas terdeteksi paling banyak berada di Nusa Tenggara Timur sebanyak 169 titik. Kalimantan Barat menempati posisi kedua jumlah titik panas terbanyak dengan 87 titik. Sulawesi Tengah berada di posisi ketiga sebanyak 61 titik panas.
Sebanyak 61 titik panas terdeteksi di Sulawesi Tenggara, Kalimantan Utara menyusul dengan 59 titik panas, serta Nusa Tenggara Barat dan Kalimantan Timur masing-masing memiliki 56 dan 49 titik panas terdeteksi.
Titik panas merupakan titik koordinat suatu daerah yang memiliki temperatur permukaan lebih tinggi dibandingkan sekitarnya, dan bukan jumlah kejadian kebakaran hutan dan lahan.
Namun, banyaknya jumlah titik panas dan bergerombol pada suatu wilayah mengindikasikan adanya kejadian kebakaran hutan dan lahan. Artinya, data titik panas hasil deteksi satelit penginderaan jauh masih paling efektif dalam memantau kebakaran hutan dan lahan untuk wilayah yang luas.
(Baca: Masih Ada 381 Hotspot Risiko Tinggi Karhutla di Indonesia pada Awal 2023)