- A Kecil
- A Sedang
- A Besar
Berdasarkan data International Monetary Fund (IMF), PDB Paritas Daya Beli (PPP) Guinea-Bissau pada tahun 2024 mencapai 215.8 unit, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 1.54%. Dibandingkan tiga tahun terakhir (2022-2023), pertumbuhan 2024 lebih rendah dari 2023 yang mencapai 4.15% tetapi lebih tinggi dari 2022 yang hanya 0.16%. Rata-rata pertumbuhan tiga tahun terakhir sebesar 1.95%, sedangkan rata-rata lima tahun terakhir (2019-2023) turun 0.52%, menunjukkan kondisi ekonomi Guinea-Bissau telah pulih dari periode kontraksi sebelumnya.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan untuk Sabun Mandi Kab. Simalungun | 2024)
Selama 10 tahun terakhir (2015-2024), pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2015 dengan 13.47%, sedangkan terendah pada 2019 dengan kontraksi sebesar 3.08%—kontraksi ini berarti nilai PDB PPP menurun drastis dibanding tahun sebelumnya, yang mencerminkan penurunan kapasitas daya beli masyarakat secara signifikan. Setelah tahun 2015, kondisi ekonomi mengalami fluktuasi: pertumbuhan turun pada 2016 menjadi 1.87%, naik kembali pada 2017 menjadi 8.45%, lalu mengalami serangkaian kontraksi hingga 2021 (-2.22%) sebelum memulai pemulihan pada 2022.
Satuan unit dalam data yang disajikan di artikel ini merupakan hasil perhitungan IMF atas nilai PDB harga berlaku mata uang nasional Guinea-Bissau terhadap dolar internasional. Dalam Publikasinya, IMF menyebutkan perhitungan digunakan untuk tujuan penyusunan komposit kelompok negara. Data yang dihasilkan ini dikatakan bukan sebagai sumber utama penyajian data paritas daya beli (PPP).
Dalam peringkat regional Afrika, Guinea-Bissau menempati posisi ke-16 pada 2024, turun satu peringkat dari tahun 2023 yang berada di posisi ke-15. Peringkat ini mengalami peningkatan signifikan dari tahun 2020-2022 yang berada di posisi ke-18 atau ke-19, menunjukkan bahwa pemulihan ekonomi Guinea-Bissau telah meningkatkan posisinya di antara negara-negara Afrika meskipun ada penurunan kecil pada 2024.
(Baca: PDB Paritas Daya Beli (PPP) Islandia 2015 - 2024)
IMF memproyeksikan PDB PPP Guinea-Bissau akan terus meningkat pada 2025-2030, dengan nilai yang mencapai 216.51 unit pada 2025 dan 225.547 unit pada 2030. Namun, pertumbuhan proyeksi akan melambat: dari 1.54% pada 2024 menjadi 0.33% pada 2025, lalu berkisar antara 0.6% hingga 0.95% pada tahun-tahun berikutnya. Ini berarti pemulihan ekonomi akan berlangsung tetapi dengan kecepatan yang lebih rendah dibandingkan tahun 2024.
Dibandingkan negara lain di Afrika, posisi Guinea-Bissau lebih baik daripada Libya yang mengalami kontraksi PDB PPP sebesar 5.298% pada tahun terakhir, serta Somalia yang berada di peringkat terendah (ke-50) dalam pertumbuhan. Ada anomali pada data Sudan yang mengalami pertumbuhan PDB PPP sebesar 172.9% pada tahun terakhir, yang kemungkinan disebabkan oleh efek dasar dari kontraksi ekonomi yang parah pada tahun-tahun sebelumnya, berbeda dengan pertumbuhan Guinea-Bissau yang stabil dan tidak mengalami lonjakan abnormal. Pada tahun 2024, Guinea-Bissau berada di peringkat ke-16, jauh di atas Somalia tetapi masih ketinggalan dari negara seperti Kenya (peringkat ke-28) yang memiliki pertumbuhan lebih tinggi sebesar 1.66% pada tahun terakhir.