Menteri Keuangan, Sri Mulyani, melaporkan, total realisasi subsidi dan kompensasi mencapai Rp161,4 triliun per semester I 2025.
Kucuran tersebut sudah mencakup 32,4% dari target dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).
Dari jumlah tersebut, aliran untuk kompensasi mencapai Rp68,6 triliun. Sementara subsidi dibagi ke dua kompartemen.
Pertama, subsidi energi, sudah terealisasi sebesar Rp66,9 triliun. Kedua, subsidi nonenergi, sebesar Rp25,9 triliun.
Sri Mulyani mengungkap, kucuran subsidi dan kompensasi ini untuk mendukung daya beli masyarakat.
Subsidi LPG 3 kilogram
Saat ini, Kemenkeu juga tengah memastikan subsidi LPG 3 kilogram (kg) tetap dibayarkan meski penyalurannya tahun ini diproyeksi jebol atau melebihi kuota yang telah ditetapkan.
Melansir Katadata, proyeksi penyaluran LPG 3 kg tahun ini bisa mencapai 8,36 juta metrik ton (MT), melampaui target awal APBN 2025 sebesar 8,17 juta MT.
“Pokoknya kalau subsidi itu pasti akan kita bayar,” kata Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Luky Alfirman saat ditemui di Gedung DPR, Kamis (3/7).
Meski demikian, Luky belum bisa memastikan berapa besar tambahan anggaran yang disiapkan. Ia menegaskan, pembayaran subsidi akan mengikuti realisasi di lapangan.
“Ya sesuai realisasi saja. Pokoknya kalau subsidi, nanti kita bayar,” ujarnya.
Namun, Luky mengungkapkan hingga saat ini Kemenkeu belum menerima pengajuan resmi penambahan kuota subsidi LPG 3 kg dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Meski ada potensi penyaluran LPG melonjak, pemerintah justru memangkas anggaran subsidi LPG 3 kg untuk tahun ini.
Dalam laporan pemerintah terkait Pelaksanaan APBN Semester I 2025, anggaran subsidi LPG 3 kg dipatok Rp 68,7 triliun. Angka ini lebih rendah dibandingkan target dalam APBN 2025 yang mencapai Rp 87 triliun.
Sementara itu, Kementerian ESDM memproyeksikan kebutuhan LPG 3 kg tahun ini akan membengkak menjadi 8,36 juta MT, melampaui kuota awal 8,17 juta MT.
(Baca Katadata: Meski Kuota Jebol, Kemenkeu Pastikan Tetap Bayar Subsidi LPG 3 Kg)