5 Proyek Konstruksi dengan Biaya Termahal di Dunia

Daftar Proyek Konstruksi Termahal di Dunia

Sumber : 1Build, 2021

Disalin..

Penulis: Cindy Mutia Annur

Editor: Annissa Mutia

14/10/2021, 17.20 WIB

Sejumlah proyek pembangunan konstruksi besar umumnya membutuhkan biaya anggaran “jumbo”. Menurut McKinsey, 98% megaproyek akan menimbulkan pembengkakan biaya hingga lebih dari 30%.

Bahkan, sebuah megaproyek umumnya tak hanya menelan biaya yang besar, tetapi juga membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk dikembangkan dan dibangun, melibatkan banyak pemangku kepentingan publik dan swasta, dan berdampak terhadap jutaan orang. Laporan 1build menunjukkan, berikut sejumlah proyek konstruksi termahal di dunia. 

  1. Jaringan Transportasi Trans-Eropa (Ten-T)

Pembangunan Jaringan Transportasi Trans-Eropa (Ten-T) menelan biaya proyek konstruksi termahal di dunia yakni sebesar US$ 600 miliar. Jaringan transportasi ini terdiri dari jalur kereta api, jalan raya, jalur air pedalaman, rute pelayaran maritim, pelabuhan, bandara, dan terminal kereta api di seluruh benua Eropa. Proyek yang ditargetkan rampung pada 2050 ini dibangun dengan tujuan untuk mengurangi dampak lingkungan dari transportasi sekaligus meningkatkan efisiensi dan keamanan energi.

Namun, proyek ini mengalami pembengkakan biaya yang parah dan penyelesaian proyek mundur dari target operasi awal, yakni pada 2030. Menurut audit proyek baru-baru ini oleh sebuah komisi, perubahan dalam desain dan ruang lingkup dari waktu ke waktu telah menyebabkan peningkatan biaya sebesar 47% dibandingkan dengan perkiraan biaya awal.

  1. Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS)

Proyek stasiun luar angkasa yang dibangun pada 1998  ini awalnya dianggarkan sebesar US$150 miliar. Namun, proyek yang dibangun oleh 15 negara ini pun mengalami pembengkakan biaya. Hal ini terjadi karena umur proyek meningkat dan adanya bagian baru dan peralatan baru yang ditambahkan.

Alhasil, perkiraan total biaya pembangunan stasiun luar angkasa ini sebesar US$ 230 miliar. Pembangunan proyek ini ditargetkan rampung pada 2030.

  1. Madinat al-Hareer (Silk City)

Pembangunan kota ini menganggarkan biaya US$ 132 miliar, di mana pembangunannya dilakukan secara bertahap selama 25 tahun sejak 2019 lalu. Pembangunan kota ini mulanya ditujukan sebagai solusi atas masalah kelebihan penduduk dan infrastruktur di Kuwait.

Madinat al-Hareer nantinya bakal memiliki gedung pencakar langit tertinggi dunia, Burj Mubarak al-Kabir, melampaui Burj Khalifa Dubai, dengan ketinggian 1001 meter. Metropolis besar ini juga akan memiliki jaringan kereta api baru, bandara internasional, dan hub internasional, serta stadion berstandar Olimpiade, gerai ritel, fasilitas hiburan, serta perumahan dan tempat kerja untuk 700 ribu orang.

  1. High-Speed Rail California

Proyek kereta berkecepatan tinggi California ini memakan dana sebesar US$ 100 miliar, lebih besar dari target anggaran awal yang sebesar US$ 33 miliar. Pembangunan proyek yang dibangun oleh 4000 pekerja ini dirancang untuk menghubungkan megaregion California dan akan menjadi sistem kereta api berkecepatan tinggi pertama di Amerika Serikat saat rampung.

Fase 1 proyek ini nantinya akan menghubungkan San Francisco ke lembah Los Angeles dalam waktu kurang dari 3 jam dengan kecepatan melebihi 200 mil per jam. Lalu, fase 2 akan memperpanjang jalur ke Sacramento dan San Diego, dengan total 800 mil. Tak hanya over budget, proyek ini juga mengalami penundaan target proyek tersebut seharusnya beroperasi pada tahun 2020 kini mundur menjadi 2030.

  1. Forest City Malaysia

Forest City adalah kota hijau cerdas atau pengembangan perumahan mewah yang dibangun dalam kemitraan dengan Country Garden, pengembang terbesar di Tiongkok. Proyek yang dimulai pada tahun 2014 ini, dibangun di empat pulau buatan di lepas pantai Johor di Malaysia dan dibangun di atas 3.425 hektar dengan padang lamun, flora, dan fauna. Proyek kota ini ditargetkan akan rampung pada tahun 2035.

Menurut pera pengembang, kota ini mengusung konsep futurisme dari sudut pandang ekologis, termasuk menerapkan konsep perencanaan kota multi-lapisan 3D dengan mengedepankan unsur lingkungan hijau, kendaraan bawah tanah yang menghilangkan polusi mobil, konsumsi energi yang rendah, dan daur ulang air hujan. Proyek ini tercatat menggelontorkan dana sebesar US$100 miliar.

 (Baca: Peringkat 12 Dunia, Jakarta Miliki 149 Gedung Pencakar Langit)

 

data terkait