PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) yang mengoperasikan Whoosh dijalankan oleh perusahaan patungan atau konsorsium China dan Indonesia.
Dari China, ada konsorsium perusahaan perkeretaapian Beijing Yawan HSR Co. Ltd. Sedangkan konsorsium Indonesia dari BUMN yang membentuk PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).
Secara struktur awal pembentukan KCIC, konsorsium Indonesia memegang 60% kepemilikan saham dan China sebesar 40%.
Laporan Katadata pada 13 Februari 2026 mengungkap, komposisi pemegang saham konsorsium PSBI terbanyak dikantongi PT Kereta Api Indonesia, yakni 51,37%.
Berikut rincian komposisi pemegang saham PSBI:
- PT Kereta Api Indonesia: 51,37%
- PT Wijaya Karya: 39,12%
- PT Perkebunan Nusantara I: 8,30%
- PT Jasa Marga: 1,21%.
(Baca: Jumlah Penumpang Whoosh Melonjak 14,65% pada Akhir 2025)
Adapun komposisi pemegang saham Beijing Yawan HSR Co. Ltd di antaranya:
- CREC: 42,88%
- Sinohydro: 30%
- CRRC: 12%
- CRSC: 10,12%
- CRIC: 5%.
Pembayaran Utang Whoosh
Pihak Istana sebelumnya mengatakan, pembahasan mengenai skema pembayaran utang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung Whoosh telah memasuki tahap finalisasi.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, memberikan sinyal pembayaran utang Whoosh akan menggunakan dana yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons hal tersebut. Dia mengaku, terlibat dalam pembahasan utang Whoosh.
Namun, ketika ditanya kesetujuannya jika utang Whoosh dibayar menggunakan APBN, Purbaya mengatakan Kementerian Keuangan akan mempertimbangkan persyaratan yang diminta kreditor dari China.
“Kita lihat kondisinya dari China, seperti apa persyaratannya. Kalau saya yang bayar, saya akan [berangkat] ke China. Tapi saya belum tahu, saya akan double cek lagi,” kata Purbaya.
(Baca Katadata: Purbaya Bantah Tak Dilibatkan Pembahasan Utang Kereta Cepat Whoosh)