Pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Kabupaten Manggarai Barat pada 2024 mencapai Rp109.935 per kapita per bulan. Angka ini mengalami pertumbuhan sebesar 4.2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pengeluaran ini menempatkan Manggarai Barat pada urutan pertama di antara kabupaten/kota se-Nusa Tenggara Timur (NTT).
Secara historis, pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Manggarai Barat menunjukkan peningkatan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2018, besar pengeluaran tercatat Rp63.591, kemudian terus meningkat hingga mencapai Rp109.935 pada 2024. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada 2019, yaitu sebesar 25.6 persen. Namun, setelah itu, pertumbuhan cenderung melambat hingga mencapai 0.6 persen pada 2021 sebelum kembali meningkat. Pengeluaran tertinggi ada pada tahun terakhir.
(Baca: Jumlah Penduduk Bekerja di Kabupaten Bone Bolango 85.657 dan Angka Pengangguran 3,76%)
Besar pengeluaran untuk rokok dan tembakau di Manggarai Barat cukup signifikan jika dibandingkan dengan pengeluaran total masyarakat. Dengan rata-rata pengeluaran per kapita sebulan untuk aneka barang dan jasa sebesar Rp161.008, pengeluaran untuk rokok dan tembakau mencapai sekitar 68 persen dari total pengeluaran tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa rokok dan tembakau menjadi salah satu kebutuhan yang cukup besar bagi masyarakat Manggarai Barat.
Dibandingkan dengan kabupaten/kota lain di NTT, Manggarai Barat memiliki tingkat pengeluaran untuk rokok dan tembakau yang tertinggi. BPS mencatat, Kabupaten Manggarai Timur berada di urutan kedua dengan nilai Rp87.668, diikuti Kabupaten Sabu Raijua dengan Rp85.821. Pertumbuhan pengeluaran tertinggi dibandingkan tahun sebelumnya justru terjadi di Kabupaten Manggarai Timur, yaitu sebesar 34.5 persen. Sementara, Kabupaten Sabu Raijua mengalami penurunan turun 3.5 persen.
Lima kabupaten/kota dengan nilai pengeluaran tertinggi untuk rokok dan tembakau di NTT pada 2024 adalah Kabupaten Manggarai Barat (Rp109.935), Kabupaten Manggarai Timur (Rp87.668), Kabupaten Sabu Raijua (Rp85.821), Kota Kupang (Rp84.348), dan Kabupaten Ende (Rp83.910). Kabupaten Manggarai Timur mengalami pertumbuhan pengeluaran paling besar, sehingga naik dari peringkat kedua tahun sebelumnya ke peringkat pertama. Sementara itu, Kabupaten Sabu Raijua justru mengalami penurunan dan turun ke peringkat ketiga.
(Baca: Persentase Pengangguran 2024 di Kabupaten Purworejo 3,89%)
Kota Kupang
Berdasarkan data BPS, Kota Kupang menunjukkan perbandingan yang menarik antara pengeluaran makanan dan non-makanan. Pengeluaran non-makanan di Kota Kupang mencapai Rp792.892, sedikit mengalami penurunan turun 2.2 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Meski demikian, Kota Kupang tetap menduduki peringkat pertama dalam hal pengeluaran non-makanan di antara kabupaten/kota se-NTT. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan mencapai Rp637.902, mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 12.4 persen.
Kabupaten Sabu Raijua
Kabupaten Sabu Raijua menunjukkan gambaran yang fluktuatif dalam pola pengeluaran masyarakatnya. BPS mencatat, pengeluaran untuk non-makanan mengalami pertumbuhan yang signifikan, mencapai 24.8 persen dengan nilai Rp481.157. Pertumbuhan ini menempatkan Sabu Raijua pada peringkat ketiga tertinggi di NTT. Namun, pada saat yang sama, pengeluaran untuk makanan juga mengalami peningkatan, berada di angka Rp637.594 atau sekitar 15.9 persen.
Kabupaten Sumba Timur
Data BPS menunjukkan bahwa Kabupaten Sumba Timur mencatatkan angka pengeluaran yang cukup signifikan baik untuk kategori makanan maupun non-makanan. Untuk pengeluaran non-makanan, tercatat sebesar Rp465.209, mengalami pertumbuhan sebesar 6.1 persen. Sementara itu, pengeluaran untuk makanan menunjukkan nilai yang lebih tinggi, yakni sebesar Rp642.489, dengan pertumbuhan yang lebih besar pula, yaitu 19.1 persen. Kondisi ini menempatkan Sumba Timur pada peringkat yang cukup baik di antara kabupaten/kota lain di provinsi NTT.
Kabupaten Ngada
Kabupaten Ngada menunjukkan pola pengeluaran yang menarik. Pengeluaran non-makanan tercatat sebesar Rp455.504, mengalami pertumbuhan sebesar 4.5 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, pengeluaran untuk makanan menunjukkan angka yang lebih tinggi dan pertumbuhan yang lebih signifikan, mencapai Rp645.901 dengan pertumbuhan sebesar 14.8 persen. Hal ini menempatkan Kabupaten Ngada sebagai wilayah dengan pengeluaran tertinggi untuk kategori makanan di antara kabupaten/kota lainnya di NTT.