Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Ketenagalistrikan Provinsi Papua Barat pada tahun 2025 tercatat sebesar 29,82 Rp miliar. Sepanjang 10 periode tahun 2016 sampai 2025, nilai ini mengalami kenaikan total 14,69% dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 1,53%. Pada tahun 2025, sektor ini tumbuh sedikit sebesar 2,65% dibandingkan tahun 2024, dengan penambahan nilai sebesar 0,77 Rp miliar.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Sulawesi Selatan 2025)
Sepanjang catatan historis, nilai PDRB sektor ketenagalistrikan Papua Barat mencapai titik tertinggi pada tahun 2022 sebesar 51,07 Rp miliar. Terjadi anomali penurunan sangat dalam pada tahun 2023 sebesar 47,76% atau berkurang 24,39 Rp miliar, yang menjadikan rata-rata pertumbuhan 3 tahun terakhir menjadi negatif turun 12,07%. Nilai tahun 2025 berada di bawah rata-rata keseluruhan periode yang bernilai 36,06 Rp miliar.
Rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir juga mencatatkan nilai negatif turun 4,15%, menunjukkan kinerja periode setelah tahun 2022 jauh lebih buruk dibandingkan rata-rata seluruh periode yang tumbuh positif 3,96% per tahun. Dari sisi peringkat, sejak anomali penurunan tahun 2023, posisi Papua Barat di lingkungan Pulau Papua turun dari peringkat 2 menjadi peringkat 4, dan peringkat nasional turun dari posisi 30 menjadi posisi 34.
Untuk tahun 2025, dibandingkan provinsi lain di wilayah Pulau Papua, nilai PDRB ketenagalistrikan Papua Barat berada di bawah Provinsi Papua, Papua Tengah dan Papua Barat Daya. Provinsi Papua menempati peringkat pertama wilayah dengan nilai 59,8 Rp miliar dan pertumbuhan tahunan 5,21%, diikuti Papua Tengah dengan nilai 32,12 Rp miliar, kemudian Papua Barat Daya 30,58 Rp miliar.
Secara nasional, posisi Papua Barat berada di urutan 34 dari seluruh provinsi di Indonesia untuk indikator ini. Meskipun telah terjadi pertumbuhan sedikit selama dua tahun berturut-turut setelah penurunan tajam tahun 2023, nilai PDRB sektor ketenagalistrikan provinsi ini masih belum kembali ke level sebelum tahun 2023, dan masih menempati posisi terbawah empat secara nasional.
Provinsi Papua
Provinsi Papua menempati posisi pertama tertinggi di seluruh wilayah Pulau Papua untuk PDRB ADHB Sektor Ketenagalistrikan tahun 2025, dengan nilai tercatat sebesar 59,8 Rp miliar. Nilai ini tumbuh sebesar 5,21% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 2,96 Rp miliar. Secara nasional provinsi ini berada di peringkat 31, menjadikannya satu-satunya wilayah di Pulau Papua yang masuk dalam 31 besar nasional untuk indikator sektor ketenagalistrikan. Nilai PDRB provinsi ini hampir dua kali lipat lebih besar dibandingkan wilayah urutan kedua di pulau yang sama.
Provinsi Papua Tengah
Posisi kedua wilayah Pulau Papua ditempati oleh Provinsi Papua Tengah dengan nilai PDRB sektor ketenagalistrikan tahun 2025 sebesar 32,12 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 3,38% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 1,05 Rp miliar. Secara nasional provinsi ini berada di peringkat 32, hanya satu tingkat di atas Papua Barat. Nilai PDRB provinsi ini sekitar 53% dari nilai yang dicatatkan oleh Provinsi Papua sebagai pemimpin tertinggi di wilayah pulau ini.
(Baca: Info Gempa Hari Ini Selasa, 22 September 2026: Gempa M 5,2 Guncang Indonesia)
Provinsi Papua Barat Daya
Provinsi Papua Barat Daya menempati urutan ketiga di wilayah Pulau Papua untuk indikator ini pada tahun 2025, dengan nilai PDRB tercatat sebesar 30,58 Rp miliar. Wilayah ini hanya mencatatkan pertumbuhan sangat sedikit sebesar 0,30% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai hanya sebesar 0,09 Rp miliar. Secara nasional provinsi ini berada di peringkat 33, persis satu tingkat di atas posisi Papua Barat. Hanya dengan selisih nilai kurang dari 1 Rp miliar, wilayah ini berhasil mempertahankan posisi di atas Papua Barat untuk tahun 2025.
Provinsi Papua Selatan
Provinsi Papua Selatan menempati urutan kelima di wilayah Pulau Papua untuk PDRB Sektor Ketenagalistrikan tahun 2025 dengan nilai tercatat sebesar 12,13 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 4,30% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 0,5 Rp miliar. Secara nasional provinsi ini berada di peringkat 37, menjadikannya wilayah dengan nilai PDRB sektor ketenagalistrikan terendah kedua di seluruh wilayah Indonesia untuk indikator ini pada tahun laporan 2025.
Provinsi Gorontalo
Provinsi Gorontalo yang masuk wilayah Pulau Sulawesi mencatatkan nilai PDRB Sektor Ketenagalistrikan tahun 2025 sebesar 26,97 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 6,35% dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penambahan nilai sebesar 1,61 Rp miliar. Secara nasional provinsi ini berada di peringkat 35, satu tingkat di bawah posisi Papua Barat. Meskipun masuk wilayah Sulawesi, nilai PDRB sektor ini di Gorontalo lebih rendah dibandingkan tiga wilayah teratas di Pulau Papua.
Provinsi Sulawesi Barat
Provinsi Sulawesi Barat menempati urutan 36 secara nasional untuk indikator ini pada tahun 2025 dengan nilai tercatat sebesar 21,41 Rp miliar. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,35% dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi wilayah dengan pertumbuhan tertinggi dibandingkan seluruh wilayah yang tercatat dalam daftar perbandingan. Pertumbuhan ini menjadikan nilai sektor ketenagalistrikan Sulawesi Barat tetap berada dua tingkat di bawah posisi Papua Barat pada tahun laporan 2025.