Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata upah bersih sebulan pekerja formal sektor akomodasi dan makan minum di DI Yogyakarta per semester Februari 2025 mencapai Rp 1.962.483,00. Pada periode ini terjadi penurunan sebesar 3,18 persen dibandingkan semester sebelumnya, setelah sebelumnya pada Agustus 2024 tercatat nilai upah tertinggi sepanjang catatan 10 tahun terakhir yakni Rp 2.027.033,44. Sepanjang data periode 2015 sampai 2025, upah sektor ini mencatat tren naik secara keseluruhan dengan total peningkatan 38,31 persen selama 10 tahun.
(Baca: Update 2024: Jumlah Perceraian DKI Jakarta 1.881 Kasus)
Rata-rata pertumbuhan upah selama 3 semester terakhir tercatat sebesar 2,91 persen, lebih rendah dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 semester terakhir yang mencapai 4,92 persen. Hal ini menunjukkan perlambatan pertumbuhan upah pada periode paling baru. Peringkat DI Yogyakarta di lingkungan Pulau Jawa turun satu peringkat dari posisi 4 menjadi posisi 5, sementara peringkat nasional juga turun dari posisi 17 menjadi posisi 22 pada semester Februari 2025.
Sepanjang catatan historis, kenaikan tertinggi upah terjadi pada akhir tahun 2018 dengan pertumbuhan 26,6 persen, sedangkan penurunan terdalam tercatat pada akhir tahun 2020 sebesar 15,49 persen. Dari 9 periode perubahan yang tercatat, sebanyak 6 kali mengalami kenaikan dan 3 kali mengalami penurunan nilai upah. Nilai upah semester terbaru ini masih tercatat berada di atas rata-rata keseluruhan periode yang bernilai Rp 1.742.212,80.
Jawa Timur
Provinsi Jawa Timur mencatat rata-rata upah pekerja formal sektor akomodasi dan makan minum sebesar Rp 1.996.022,00 pada periode terbaru, berada sedikit di atas nilai DI Yogyakarta. Sektor ini di Jawa Timur mengalami pertumbuhan sebesar 10,90 persen dibandingkan semester sebelumnya, menjadikannya salah satu pertumbuhan tertinggi di antara provinsi pembanding. Peringkat provinsi ini di Pulau Jawa berada di posisi 4, dan berada di peringkat 21 secara nasional, satu peringkat di atas DI Yogyakarta.
Kalimantan Selatan
Kalimantan Selatan menempati posisi tertinggi di antara seluruh provinsi pembanding dengan nilai upah sebesar Rp 2.137.971,00. Provinsi ini mencatat pertumbuhan upah sebesar 18,78 persen pada semester terakhir, menjadi pertumbuhan paling kuat dari seluruh wilayah yang dibandingkan. Peringkat Kalimantan Selatan berada di posisi 2 di wilayah Pulau Kalimantan dan peringkat 19 secara nasional, tiga peringkat lebih tinggi dibandingkan posisi DI Yogyakarta.
(Baca: Pengeluaran Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya di Kota Medan Bulan Juni Turun 0,36%)
Sumatera Selatan
Sumatera Selatan mencatat nilai upah rata-rata Rp 2.042.597,00 pada periode terbaru, dan mengalami penurunan sedikit sebesar 3,44 persen dibandingkan semester sebelumnya. Peringkat provinsi ini berada di posisi 4 di wilayah Pulau Sumatera dan peringkat 20 secara nasional, dua peringkat di atas DI Yogyakarta. Nilai upah di provinsi ini masih berada di atas rata-rata nasional untuk sektor yang sama.
Aceh
Aceh mencatat rata-rata upah pekerja formal sektor akomodasi makan minum sebesar Rp 1.899.211,00 pada semester terbaru. Wilayah ini mencatat pertumbuhan positif sebesar 9,42 persen dibandingkan periode sebelumnya, menempati peringkat 5 di Pulau Sumatera dan peringkat 23 secara nasional, satu peringkat di bawah posisi DI Yogyakarta. Pertumbuhan upah di Aceh konsisten positif selama 3 semester berturut-turut terakhir.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur mencatat pertumbuhan upah tertinggi di antara seluruh wilayah pembanding yaitu sebesar 23,82 persen pada semester terakhir, dengan nilai upah mencapai Rp 1.855.384,00. Meskipun pertumbuhan sangat tinggi, nilai absolut upah di provinsi ini masih berada di bawah DI Yogyakarta, dan menempati peringkat 2 di wilayah Nusa Tenggara dan Bali serta peringkat 24 secara nasional.
Kalimantan Utara
Kalimantan Utara mengalami penurunan paling dalam di antara seluruh wilayah pembanding yaitu sebesar 22,94 persen pada semester terbaru, dengan nilai upah akhir tercatat Rp 1.850.174,00. Provinsi ini menempati peringkat 3 di wilayah Pulau Kalimantan dan peringkat 25 secara nasional, tiga peringkat di bawah posisi DI Yogyakarta. Penurunan ini merupakan penurunan terbesar yang pernah tercatat di provinsi ini untuk sektor akomodasi.