Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat persentase penduduk DI Yogyakarta yang memiliki jaminan kesehatan perusahaan pada akhir 2025 sebesar 1,75 Persen. Sepanjang 11 tahun periode data sejak 2015, nilai indikator ini mengalami fluktuasi dengan catatan kenaikan tertinggi terjadi pada tahun 2017 sebesar 3,96 Persen, sedangkan titik terendah tercatat pada tahun 2016 dengan nilai 0,61 Persen. Secara tren jangka panjang nilai ini mencatat kenaikan total 68,27 persen sejak tahun pertama data.
(Baca: Pengeluaran Perkapita Sebulan di Aceh 2025)
Untuk periode 3 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan indikator ini tercatat negatif turun 8,31 persen, lebih buruk dibandingkan rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir yang tercatat turun 5,66 persen. Pada tahun 2025, nilai persentase ini berada di bawah rata-rata keseluruhan periode yang sebesar 2,44 Persen. Tahun 2025 juga mencatat penurunan pertumbuhan turun 35,94 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dalam lingkup pulau Jawa, posisi peringkat DI Yogyakarta pada tahun 2025 berada di urutan 6, mengalami penurunan peringkat dibandingkan tahun 2024 yang berada di urutan 4. Di tingkat nasional, peringkat provinsi ini turun drastis dari urutan 13 pada tahun 2024 menjadi urutan 23 pada akhir 2025. Nilai 1,75 Persen pada tahun 2025 juga menempatkan DI Yogyakarta di bawah Jawa Tengah yang mencatat nilai 1,82 Persen untuk indikator yang sama.
Kalimantan Barat
Kalimantan Barat menempati urutan 5 di wilayah pulau Kalimantan dan peringkat 20 secara nasional untuk indikator persentase jaminan kesehatan perusahaan. Nilai indikator di provinsi ini tercatat sebesar 1,82 Persen, lebih tinggi 0,07 poin persen dibandingkan catatan DI Yogyakarta. Pertumbuhan indikator di wilayah ini tercatat negatif turun 20,98 persen dibandingkan periode tahun sebelumnya, dengan selisih penurunan turun 0,48 poin dari nilai tahun lalu.
Jawa Tengah
Jawa Tengah berada pada urutan 5 di lingkup pulau Jawa dan berbagi peringkat 20 secara nasional bersama Kalimantan Barat dengan nilai indikator yang sama sebesar 1,82 Persen. Nilai ini sedikit lebih tinggi dibandingkan pencapaian DI Yogyakarta. Wilayah ini mencatat penurunan pertumbuhan turun 2,19 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan perubahan nilai turun 0,04 poin persen, penurunan yang jauh lebih kecil dibandingkan yang terjadi di DI Yogyakarta.
Bali
(Baca: Bank OCBC NISP di Peringkat 5 dari 273 Perusahaan di Topik Tata Kelola Keberlanjutan, Skor 85,1)
Bali menempati urutan pertama tertinggi di wilayah Nusa Tenggara dan Bali untuk indikator ini, dengan peringkat nasional di urutan 22. Nilai persentase penduduk dengan jaminan kesehatan perusahaan di Bali tercatat sebesar 1,76 Persen, hanya sedikit di atas catatan DI Yogyakarta. Berbeda dengan dua provinsi sebelumnya, Bali mencatat pertumbuhan positif sebesar 42,61 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan nilai sebesar 0,53 poin persen.
Sulawesi Tenggara
Sulawesi Tenggara berada di urutan 2 di wilayah pulau Sulawesi dan peringkat 24 secara nasional. Nilai indikator di provinsi ini tercatat sebesar 1,69 Persen, sedikit lebih rendah dibandingkan pencapaian DI Yogyakarta pada tahun 2025. Wilayah ini mencatat pertumbuhan positif sebesar 5,94 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan nilai sebesar 0,09 poin persen.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan menempati urutan 3 di wilayah pulau Sulawesi dengan peringkat nasional urutan 25. Nilai persentase indikator di wilayah ini tercatat sebesar 1,67 Persen, sedikit di bawah catatan DI Yogyakarta. Pertumbuhan indikator di provinsi ini tercatat positif sebesar 7,38 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan kenaikan nilai sebesar 0,11 poin persen.
Bengkulu
Bengkulu berada di urutan 7 di wilayah pulau Sumatera dan peringkat 26 secara nasional untuk indikator ini. Nilai persentase penduduk dengan jaminan kesehatan perusahaan di Bengkulu tercatat sebesar 1,64 Persen, lebih rendah dibandingkan pencapaian DI Yogyakarta. Wilayah ini mencatat pertumbuhan negatif turun 14,99 persen dibandingkan tahun sebelumnya, dengan penurunan nilai turun 0,29 poin persen.