Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Sulawesi Utara pada 2021 sebesar 97.17 US$ juta, mengalami penurunan sebesar 51.04 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 148.21 US$ juta, dengan pertumbuhan negatif turun 34.44%. Dalam kurun waktu 5 tahun terakhir (2016-2020), nilai impor Sulawesi Utara memiliki rata-rata sebesar 178.07 US$ juta, sedangkan rata-rata 3 tahun terakhir (2019-2021) adalah 143.74 US$ juta, menunjukkan kondisi 2021 berada di bawah kedua rata-rata tersebut. Kenaikan tertinggi nilai impor terjadi pada 2017, dengan pertumbuhan sebesar 38.08% hingga mencapai 223.7 US$ juta, sedangkan penurunan terbesar terjadi pada 2021. Selama 6 tahun terakhir, ranking Sulawesi Utara menurut pulau Sulawesi tetap berada di posisi ke-4, sedangkan ranking se-Indonesia pada 2021 turun ke posisi ke-24 dari posisi ke-21 pada tahun 2020.
(Baca: Volume Ekspor SITC Kode 42 Minyak dan Lemak Nabati Periode 2020-2025)
Dibandingkan dengan provinsi lain yang tercatat dalam data perbandingan, nilai impor Sulawesi Utara pada 2021 (97.17 US$ juta) sedikit lebih rendah dibandingkan Kalimantan Utara yang sebesar 98.07 US$ juta, namun lebih tinggi dari Papua Barat (68.75 US$ juta), Nusa Tenggara Timur (51.12 US$ juta), dan Kalimantan Tengah (49.51 US$ juta). Ranking Sulawesi Utara di pulau Sulawesi tetap stabil di posisi ke-4, sedangkan provinsi lain seperti Nusa Tenggara Barat menduduki posisi ke-1 di pulau Nusa Tenggara dan Bali dengan nilai impor 151.61 US$ juta, dan Aceh berada di posisi ke-7 di pulau Sumatera dengan nilai 119.05 US$ juta.
Nusa Tenggara Barat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Nusa Tenggara Barat pada 2021 sebesar 151.61 US$ juta, yang merupakan nilai tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan. Nilai ini mengalami penurunan sebesar 113.6 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 265.2 US$ juta, dengan pertumbuhan negatif turun 42.83%. Rata-rata nilai impor Nusa Tenggara Barat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan, dengan nilai dua tahun sebelumnya sebesar 202.12 US$ juta yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai tahun 2020. Menduduki posisi ke-1 di pulau Nusa Tenggara dan Bali, Nusa Tenggara Barat memiliki ranking se-Indonesia pada 2021 di posisi ke-21, yang menunjukkan posisinya lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Utara. Penurunan nilai impor pada 2021 ini merupakan perubahan yang cukup besar dari kondisi tahun sebelumnya, dengan selisih nilai dengan tahun sebelumnya turun 113.6 US$ juta yang merupakan selisih terbesar negatif di antara provinsi dalam data perbandingan.
Aceh
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Aceh pada 2021 sebesar 119.05 US$ juta, yang merupakan nilai kedua tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 93.27 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 25.78 US$ juta, dengan pertumbuhan positif sebesar 361.86% yang merupakan pertumbuhan tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan. Rata-rata nilai impor Aceh dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan perubahan yang drastis, dengan nilai dua tahun sebelumnya sebesar 131.31 US$ juta yang lebih tinggi dibandingkan nilai tahun 2020 namun sedikit lebih rendah dibandingkan nilai tahun 2021. Menduduki posisi ke-7 di pulau Sumatera, Aceh memiliki ranking se-Indonesia pada 2021 di posisi ke-22, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Utara. Peningkatan nilai impor pada 2021 ini terjadi setelah nilai impor pada tahun sebelumnya yang relatif rendah, dengan selisih nilai dengan tahun sebelumnya mencapai 93.27 US$ juta yang merupakan selisih terbesar positif di antara provinsi dalam data perbandingan.
(Baca: Persentase Fatality Rate Kasus DBD Periode 2015-2023)
Kalimantan Utara
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Kalimantan Utara pada 2021 sebesar 98.07 US$ juta, yang merupakan nilai ketiga tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan dan sedikit lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Utara. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 13.49 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 84.58 US$ juta, dengan pertumbuhan positif sebesar 15.95%. Rata-rata nilai impor Kalimantan Utara dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang cukup stabil, dengan nilai dua tahun sebelumnya sebesar 57.24 US$ juta yang jauh lebih rendah dibandingkan nilai tahun 2020 dan 2021. Menduduki posisi ke-4 di pulau Kalimantan, Kalimantan Utara memiliki ranking se-Indonesia pada 2021 di posisi ke-23, yang sedikit lebih tinggi dibandingkan Sulawesi Utara. Peningkatan nilai impor pada 2021 ini merupakan lanjutan dari pertumbuhan positif pada tahun sebelumnya, dengan selisih nilai dengan tahun sebelumnya mencapai 13.49 US$ juta yang menunjukkan peningkatan yang konsisten dalam dua tahun terakhir.
Papua Barat
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Papua Barat pada 2021 sebesar 68.75 US$ juta, yang merupakan nilai keempat tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan dan lebih rendah dibandingkan Sulawesi Utara. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 2.22 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 66.53 US$ juta, dengan pertumbuhan positif sebesar 3.33%. Rata-rata nilai impor Papua Barat dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang sangat signifikan, dengan nilai dua tahun sebelumnya sebesar 374.3 US$ juta yang jauh lebih tinggi dibandingkan nilai tahun 2020 dan 2021. Menduduki posisi ke-2 di pulau Papua, Papua Barat memiliki ranking se-Indonesia pada 2021 di posisi ke-25, yang lebih rendah dibandingkan Sulawesi Utara. Peningkatan nilai impor pada 2021 ini merupakan perubahan kecil dari kondisi tahun sebelumnya, dengan selisih nilai dengan tahun sebelumnya mencapai 2.22 US$ juta yang menunjukkan pertumbuhan yang sangat sedikit setelah nilai impor yang turun drastis pada tahun sebelumnya.
Nusa Tenggara Timur
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Nusa Tenggara Timur pada 2021 sebesar 51.12 US$ juta, yang merupakan nilai kelima tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan dan lebih rendah dibandingkan Sulawesi Utara. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 16.47 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 34.65 US$ juta, dengan pertumbuhan positif sebesar 47.54%. Rata-rata nilai impor Nusa Tenggara Timur dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang cukup stabil, dengan nilai dua tahun sebelumnya sebesar 68.57 US$ juta yang lebih tinggi dibandingkan nilai tahun 2020 namun sedikit lebih tinggi dibandingkan nilai tahun 2021. Menduduki posisi ke-2 di pulau Nusa Tenggara dan Bali, Nusa Tenggara Timur memiliki ranking se-Indonesia pada 2021 di posisi ke-26, yang lebih rendah dibandingkan Sulawesi Utara. Peningkatan nilai impor pada 2021 ini merupakan lanjutan dari pertumbuhan positif pada tahun sebelumnya, dengan selisih nilai dengan tahun sebelumnya mencapai 16.47 US$ juta yang menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan setelah nilai impor yang relatif rendah pada tahun sebelumnya.
Kalimantan Tengah
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor tahunan Kalimantan Tengah pada 2021 sebesar 49.51 US$ juta, yang merupakan nilai terendah di antara provinsi dalam data perbandingan dan lebih rendah dibandingkan Sulawesi Utara. Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 16.62 US$ juta dibandingkan tahun sebelumnya (2020) yang mencapai 32.89 US$ juta, dengan pertumbuhan positif sebesar 50.53% yang merupakan pertumbuhan kedua tertinggi di antara provinsi dalam data perbandingan. Rata-rata nilai impor Kalimantan Tengah dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir menunjukkan fluktuasi yang cukup stabil, dengan nilai dua tahun sebelumnya sebesar 68.96 US$ juta yang lebih tinggi dibandingkan nilai tahun 2020 dan 2021. Menduduki posisi ke-5 di pulau Kalimantan, Kalimantan Tengah memiliki ranking se-Indonesia pada 2021 di posisi ke-27, yang lebih rendah dibandingkan Sulawesi Utara. Peningkatan nilai impor pada 2021 ini merupakan perubahan yang cukup signifikan dari kondisi tahun sebelumnya, dengan selisih nilai dengan tahun sebelumnya mencapai 16.62 US$ juta yang menunjukkan peningkatan yang cukup besar setelah nilai impor yang relatif rendah pada tahun sebelumnya.