Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Garis Kemiskinan Makanan di Perkotaan Provinsi Gorontalo per Maret 2026 mencapai 407.068 Rupiah per kapita per bulan. Nilai ini tercatat sebagai titik tertinggi sepanjang pencatatan sejak Maret 2015, mengalami kenaikan sebesar 11.220 Rupiah atau tumbuh 2,83 persen dibandingkan semester September 2025 sebelumnya. Seluruh 21 periode pencatatan semesteran selalu mencatat kenaikan, tidak pernah terjadi penurunan nilai sama sekali sepanjang 11 tahun data.
(Baca: Statistik PDRB ADHK Sektor Industri Kayu, Barang dari Kayu dan Gabus dan Barang Anyaman dari Bambu, Rotan dan Sejenisnya Periode 2013-2025)
Dalam 3 semester terakhir, rata-rata pertumbuhan Garis Kemiskinan Makanan Gorontalo tercatat 2,99 persen per semester, lebih rendah dibandingkan rata-rata 5 semester terakhir yang mencapai 4,48 persen. Artinya laju kenaikan ambang batas kebutuhan makanan pokok warga perkotaan di wilayah ini mengalami perlambatan dalam 3 periode terakhir dibandingkan dua tahun sebelumnya. Kenaikan tertinggi sepanjang sejarah tercatat pada Maret 2024 dengan lonjakan 25.950 Rupiah atau tumbuh 7,93 persen, sementara kenaikan terendah terjadi pada September 2020 hanya sebesar 2.496 Rupiah.
Untuk posisi peringkat semester Maret 2026, Gorontalo menempati urutan ke 5 dari seluruh provinsi di Pulau Sulawesi, dan berada di peringkat 37 secara nasional. Peringkat ini turun 2 tingkat dibandingkan 5 semester yang lalu yang sempat menempati urutan ke 3 di wilayah Sulawesi. Secara total dalam 11 tahun, nilai garis kemiskinan makanan Gorontalo telah naik sebesar 112 persen, atau lebih dari dua kali lipat dibandingkan nilai awal tahun 2015.
Jawa Barat
Jawa Barat mencatat Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan semester Maret 2026 sebesar 458.119 Rupiah per kapita per bulan, menjadi nilai tertinggi dibandingkan seluruh wilayah pada daftar perbandingan. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan 5,98 persen pada semester terakhir, jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan Gorontalo. Secara peringkat nasional Jawa Barat berada di posisi 34, 3 tingkat lebih tinggi dibandingkan posisi Gorontalo. Nilai selisih kenaikan antar semester mencapai 25.837 Rupiah, merupakan lonjakan terbesar dibandingkan seluruh provinsi yang dibandingkan.
Sulawesi Tenggara
(Baca: 6,13% Penduduk di Kabupaten Banyuwangi Masuk Kategori Miskin)
Sulawesi Tenggara menempati urutan ke 3 di Pulau Sulawesi untuk indikator ini, dengan nilai akhir semester Maret 2026 sebesar 414.885 Rupiah per kapita per bulan. Nilai ini hanya sekitar 7.817 Rupiah lebih tinggi dibandingkan nilai Gorontalo pada periode yang sama. Pertumbuhan semester terakhir tercatat 2,49 persen, sedikit lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Gorontalo. Secara peringkat nasional Sulawesi Tenggara berada di posisi 35, hanya satu tingkat di atas peringkat Gorontalo.
Sulawesi Selatan
Sulawesi Selatan mencatatkan nilai Garis Kemiskinan Makanan Perkotaan sebesar 407.568 Rupiah per kapita per bulan per Maret 2026, nilai ini hampir sama persis dengan nilai yang tercatat untuk Provinsi Gorontalo. Wilayah ini mencatatkan pertumbuhan 4,09 persen pada semester terakhir, lebih tinggi dibandingkan laju pertumbuhan Gorontalo. Secara peringkat pulau Sulawesi, Sulawesi Selatan berada di urutan ke 4, satu tingkat di atas Gorontalo, sedangkan secara nasional menempati posisi 36.
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat mencatat nilai akhir semester Maret 2026 sebesar 405.640 Rupiah per kapita per bulan, sedikit lebih rendah dibandingkan nilai Gorontalo pada periode yang sama. Pertumbuhan semester terakhir tercatat 2,03 persen, menjadi yang terendah dibandingkan seluruh provinsi dalam daftar perbandingan. Wilayah ini menempati urutan ke 6 di Pulau Sulawesi dan peringkat 38 secara nasional, satu tingkat di bawah peringkat Gorontalo pada periode yang sama.