Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDRB ADHB Sektor Kehutanan dan Penebangan Kayu Provinsi Banten pada akhir tahun 2025 mencapai 186,95 Rp miliar. Sepanjang 16 periode data sejak 2010, sektor ini mencatat tren kenaikan secara keseluruhan dengan rata-rata pertumbuhan tahunan 4,69 persen, namun pada dua tahun terakhir secara beruntun mengalami kontraksi. Pada tahun 2024 nilai sektor ini turun sebesar 5,58 persen, dan kembali turun sebesar 6,3 persen pada tahun 2025.
(Baca: Persentase Pengangguran 2025 di Kabupaten Aceh Tamiang 6,78 Persen)
Secara historis, nilai tertinggi sektor ini pernah dicapai pada tahun 2023 dengan angka 211,32 Rp miliar, sebelum akhirnya menurun dua tahun berturut-turut. Rata-rata pertumbuhan 5 tahun terakhir tercatat sebesar 2,31 persen, sementara rata-rata 3 tahun terakhir justru menunjukkan kontraksi turun 2,72 persen. Hal ini menunjukkan performa sektor kehutanan dan penebangan kayu Banten memburuk secara signifikan dalam tiga tahun terakhir dibandingkan periode lima tahun ke belakang.
Ranking Provinsi Banten untuk sektor ini di wilayah Pulau Jawa secara konsisten berada di peringkat 5 sejak tahun 2016 hingga 2025, tidak ada perubahan posisi selama 9 tahun terakhir. Secara nasional, ranking Banten turun dari peringkat 28 ke posisi 33 sejak tahun 2023, dan tetap bertahan di posisi 33 hingga akhir tahun 2025. Kenaikan tertinggi sepanjang catatan data terjadi pada tahun 2022 dengan pertumbuhan 13,83 persen, sementara penurunan terbesar tercatat pada tahun 2025.
Papua Pegunungan
Papua Pegunungan menempati urutan 6 di wilayah pulau Papua dan peringkat 30 secara nasional untuk sektor yang sama. Nilai PDRB sektor kehutanan wilayah ini mencapai 261,87 Rp miliar pada tahun terakhir, dengan pertumbuhan sebesar 7,25 persen. Nilai ini melebihi capaian Provinsi Banten sebesar 40 persen, dengan selisih nilai mencapai 74,92 Rp miliar. Wilayah ini mencatat penambahan nilai sebesar 17,7 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya, menjadi salah satu wilayah dengan pertumbuhan positif di luar Pulau Jawa.
Nusa Tenggara Timur
Nusa Tenggara Timur menempati posisi pertama di wilayah pulau Nusa Tenggara dan Bali, serta peringkat 31 secara nasional. Sektor kehutanan dan penebangan kayu di wilayah ini memiliki nilai 250,09 Rp miliar, dengan pertumbuhan sebesar 7,5 persen. Capaian pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional untuk sektor yang sama, serta menjadi wilayah dengan pertumbuhan stabil kedua diantara kelompok provinsi yang dibandingkan. Selisih nilai dengan Banten mencapai 63,14 Rp miliar.
(Baca: Jumlah Penduduk dan Persentase Kemiskinan di Kota Tanggerang | 2004 - 2025)
Sulawesi Barat
Sulawesi Barat berada di peringkat 6 wilayah Pulau Sulawesi dan posisi 32 secara nasional. Nilai PDRB sektor ini tercatat 234,49 Rp miliar dengan pertumbuhan 5,01 persen pada tahun terakhir. Meskipun ranking nasional hanya selisih satu tingkat diatas Banten, nilai sektor di Sulawesi Barat masih 25 persen lebih besar dibandingkan capaian Banten tahun 2025. Wilayah ini mencatat penambahan nilai sebesar 11,18 Rp miliar dibandingkan periode tahun sebelumnya.
Lampung
Lampung menempati urutan 9 di wilayah Pulau Sumatera dan peringkat 34 secara nasional, satu tingkat dibawah Banten. Sektor kehutanan dan penebangan kayu di Lampung tercatat bernilai 175,58 Rp miliar, mengalami kontraksi sebesar 9,14 persen pada tahun terakhir. Ini menjadi satu-satunya provinsi dalam kelompok perbandingan yang juga mengalami penurunan nilai selain Banten, dengan tingkat penurunan bahkan lebih dalam dibandingkan kontraksi yang terjadi di Banten.
Nusa Tenggara Barat
Nusa Tenggara Barat berada di posisi 2 wilayah Nusa Tenggara dan Bali, serta peringkat 35 secara nasional. Nilai sektor ini mencapai 134,3 Rp miliar dengan pertumbuhan sebesar 2,67 persen. Meskipun ranking nasional berada dibawah Banten, wilayah ini berhasil mencatat pertumbuhan positif pada tahun terakhir, berbeda dengan kondisi Banten yang mengalami penurunan. Penambahan nilai yang dicapai Nusa Tenggara Barat mencapai 3,49 Rp miliar dibandingkan tahun sebelumnya.
Kep. Riau
Kepulauan Riau menempati urutan 10 wilayah Pulau Sumatera dan peringkat 36 secara nasional. Sektor kehutanan dan penebangan kayu di wilayah ini memiliki nilai 28,75 Rp miliar, namun mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 9,36 persen diantara seluruh provinsi yang dibandingkan. Meskipun nilai absolut paling kecil, tingkat pertumbuhan wilayah ini menjadi yang terbaik, dengan penambahan nilai sebesar 2,46 Rp miliar pada tahun terakhir.